Oleh Yulianus Akadius Gale, S.Ag. (Penyuluh Agama Katolik Provinsi Bali)
Jumat Agung adalah salah satu perayaan penting dalam Liturgi Katolik atau juga kristiani pada umumnya, di mana sengsara dan wafat Yesus Kristus di kayu salib diperingati. Ini adalah bagian dari Tri Hari Suci dalam pekan suci sebelum Paskah. Perayaan ini bukan hanya sekadar mengenang peristiwa tragis, tetapi juga merupakan momen refleksi mendalam tentang Cinta sejati, pengorbanan, dan pengampunan yang ditunjukkan oleh Yesus dalam bayangan aneka tragedi kemanusiaan 2000 tahun lalu yang masih mencuat hingga kini.
Dalam liturgi Jumat Agung, umat Katolik akan mendengarkan bacaan-bacaan Kitab suci yang bernuansa penderitaan dan terutama narasi sengsara dan wafat Kristus yang dilagukan yang disebut Passio. Selain itu umat mendoakan 10 Doa Umat Meriah serta Venerasi Salib yang dilakukan dengan penghormatan dan mencium salib. Kemudian umat menerima komuni (Tubuh dan darah Kristus) yang telah dikosekrir pada perayaan Kamis Putih.
Kalau kita mencermati Narasi Jumat Agung semata memang menampilkan panggung penderitaan Yesus yang berpuncak pada kematian di salib. Pertanyaannya, ada apa di balik penderitaan Salib Kristus ini? Jawabannya adalah ada cinta, pengorbanan, dan pengampunan. Karena itu ada empat poin penting yang patut direfleksikan agar perayaan Jumat Agung dimaknai.
Makna terdalam dari Jumat Agung; Pertama adalah pengorbanan Tuhan Yesus yang merelakan dirinya dihina dan direndahkan bahkan disalibkan demi keselamatan manusia. Sementara tragedy manusia sampai hari ini adalah cenderung mengutamakan cara atau jalan untuk mementingkan diri; banyak orang lupa bahwa jalan menuju kepada Allah adalah dengan jalan pengorbanan seperti yang Yesus lakukan. Pengorbanan yang dilakukan oleh Yesus merupakan bukti nyata cintaNya kepada umat manusia. Sebab tingkat tertinggi dari mencintai adalah berani berkorban. Yesus menginginkan manusia selamat karena itu Ia mencintai kita lewat jalan pengorbanan di salib. Ketika manusia tidak berdaya karena dosa dan angkat tangan tanda menyerah, Tuhan turun tangan untuk merentangkan tangannya disalib supaya kita semua hidup dan selamat. Pengorbanannya di salib adalah kasih Tuhan tanpa syarat kepada manusia.
Kedua, kekuatan perayaan Jumat Agung ini terletak pada kesetiaan dalam hubungan Yesus dengan Allah. Salib menjadi lambang kesetiaan Yesus terhadap kehendak Allah. Hingga akhir rahasia keberhasilan Yesus ini tidak berhubungan dengan banyaknya pengikut yang ia punya apalagi dengan kekuatan, kekerasan, tetapi semata-mata kekuatannya itu terletak dalam kesetiaannya kepada Allah yang maha pengasih dan maha rahim kepada siapapun dan cintanya kepada manusia sampai akhir. Sementara tragedy manusia sepanjang sejarah adalah ketidak setiaan.
Ketiga: Kekuatan perayaan ini juga terletak pada pengampunan. Di puncak sengsara dan wafat Yesus itulah, saat luka merobek tubuhNya dan juga meremukkan hatinya, Yesus masih berdoa tulus" Ya Bapa ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat" (Lukas 23:34). Doa ini menegasikan semua rasa dendam terhadap orang-orang yang telah menyalibkanNya. Maka dalam buku "The Name of God Is Mercy" dimana Paus Fransiskus menjelaskan tentang kerahiman Allah dan pentingnya pengampunan, serta bagaimana kasih Tuhan selalu melebihi dosa manusia, beliau menegaskan bahwa “jika dosa seseorang itu segelap malam, kerahiman dan pengampunan Allah selalu lebih daripada beban kepedihan kesalahan manusia”. Sementara tragedy manusia sepanjang sejarah adalah cenderung “gigi ganti gigi” kejahatan dibalas dengan kejahatan, kekerasan dibalas dengan kekerasan. Namun Yesus membalasnya dengan Pengampunan. Karena Tuhan sudah mengampuni kita maka kita pun wajib untuk mengampuni sesama.
Yang keempat dalam hubungan dengan aneka tragedy kemanusiaan yang kerap lahir dari kelemahan insani atau aneka tantangan dan kesulitan hidup, kiranya perlu kita bertanya Apakah Tuhan Sang Cinta Sejati yang menyelamatkan dapat kita temukan di tengah aneka beban derita yang kita hadapi atau di tengah aneka tragedy karena keterbatasan insani kita?
Jika direnungkan, Tuhan mengizinkan adanya penderitaan untuk manusia karena ingin memberikan banyak hal yang lebih berharga daripada sekadar kenikmatan dan kebebasan dari penderitaan. Karena itu momen Jumat Agung umat Kristiani diajak untuk membawa seluruh pengalaman hidup terutama pengalaman salib, dan letakkan di bawah kaki Salib Tuhan Yesus. Karena Umat Kristiani percaya bahwa di bawa kaki salib Tuhan semua pengalam kegelapan hidup akan ditebus dengan sengsara dan wafat Kristus. Karena ketaatan dan kesetiaanNya melaksanakan kehendak Allah umat Kristiani percaya bahwa di bawah kaki salib Tuhan ada anugerah keselamatan .
Sampai di sini, tak dapat disangkal bahwa Jumat Agung memang adalah tragedi yang sangat memilukan; menyisakan penderitaan hingga kematian yang menyayat hati. Di sisi lain, peristiwa ini juga mencerminkan cinta, pengorbanan dan Pengampunan. Cinta yang sejati, pengorbanan yang total, dan pengampuan yang tulus tanpa syarat inilah yang memberi harapan akan kehidupan yang menyelamatkan. Sejatinya Jumat Agung bukanlah tragedi tetapi realitas cinta yang menyelamatkan: Cinta sejati yang mengalahkan aneka tragedi insani dan memberi harapan akan hidup yang lebih baik, lebih manusiawi dan menyelamatkan. Mari kita memaknai Jumat Agung dengan mulai berani menghidupi Cinta dan membiasakan Pengampunan meski harus berkorban.***
Jumat Agung: Realitas Cinta Sejati Yang Menyelamatkan