Oleh : Yulianus Akadius Gale, S.Ag - Penyuluh Agama Madya Agama Katolik Kanwil Kemenag Provinsi Bali
Berdiri sebagai penegah dalam sebuah konflik dari dua sisi kepentingan sungguh tidak mudah. Apalagi sikap penengah mau menunjukkan sebuah pilihan jalan untuk mengangkat martabat sesama sehingga beroleh kesempatan untuk bangkit dan berkembang lagi. Sebab pada saat itu, orang yang merasa lebih kuat, lebih berwewenang, dan lebih berkuasa kehilangan kesadaran bahwa mereka pernah berada pada posisi yang lemah. Maka ajakan untuk menempatkan diri dalam situasi senasib dengan yang malang akhirnya meredam serapah, marah, emosi, lalu mengenakan mantel mawas diri. Sungguh sebuah tantangan yang tidah mudah….
Dalam Alkitab terdapat “Wanita Pendosa” dalam injil Yohanes (Yoh. 8:1-10). Karena kedapatan berbuat zinah, wanita itu dibawa oleh para tetua dan Ahli Taurat (Ahli Kitab) kepada Yesus agar mendapat kata dukungan terakhir untuk merajam berdasarkan adat Agama Yahudi. Terhadap konflik tersebutYesus membuat sebuah titik balik yang mencekam tapi menyentuh hati , “ Barang siapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu” (lih. Yoh. 8:7). Kesadaran akan keterbatasan manusia yang sering jatuh dalam kesalahan/dosa membuat tak satupun dari mereka merajam wanita itu.
Cuplikan kisah di atas menunjukkan betapa menentukan sekali sebuah pilihan jalan ketiga dari dua medan konflik antara yang kuat dan yang lemah. Yang mau ditunjukkan oleh Yesus melalui kisah tersebut bukan kerasnya hukum Yahudi yang didukung oleh para tetua dan Ahli Taurat; juga bukan pilihan berpihak pada wanita pendosa secara gampang-gampangan. Pilihan Yesus adalah menaruh kembali jalan hormat pada setiap usaha untuk hidup yang lebih baik, yang mau bertobat untuk kembali kepada yang benar, yang menyuarakan sekaligus yang memperbaiki diri dalam keyakinan akan masih adanya harapan. Pilihan jalan yang lebih manusiawi, dengan membebaskan diri belengu kepincangan, kesalahan, dan dosa, itulah yang ingin dikukuhkan Yesus.
Posisi penengah seperti ini beresiko dimusuhi, dicurigai, bahkan disingkirkan karena akan berbenturan dengan medan konflik yang ada. Meskipun demikian, bila kita menengok sejarah gerakan memilih jalan ala Yesus (jalan ketiga, Jalan Kehidupan) sungguh merupakan gerakan universal. Logika kesadaran yang melatarinya adalah melihat yang lain sebagai sesama yang secitra dan pantas dihargai. Maka apapun upaya yang harus diperjuangkan demi kebaikan bagi banyak orang perlu ditegakan. Itulah sebabnya muncul instansi dan atau institusi yang mengokohkan jalan ketiga yang telah menyejarah selama ini, seperti dalam level makro… munculnya PBB dan deklarasi HAM; Perjuangan LSM-LSM manca Negara demi bonum communae. Intern di negara kita, bagaimana perjuangan Mahasiswa jelang berakhirnya orde baru; etikad baik saat pemerintah Gus Dur untuk menyelidiki sebab-sebab terjadinya konflik termasuk pelanggaran HAM di tanah air, sepak terjang UNCCC untuk menangani pemanasan global meski perjuanganya masih sangat jauh, evaluasi kritis lembaga independen atau orang perorangan yang mampu melihat kepincangan yang harus diperbaiki di negeri ini seperti ICW, atau beragam realityshow yang memberikan insight positif seperti mata Najwa. Atau juga hembusan reformasi birokrasi yang tengah berjalan memperbaiki berbagai kepincangan. Instansi atau Mereka-mereka yang secara terang-terangan memilih jalan tersebut tidak pernah terlepas dari penilaian negatif oleh kubu yang mempertahankan status quo, mempertahan kepincangan dan kebobbrokan. Itu semua merupakan harga yang harus dibayar dalam upaya untuk menegakan jalan ketiga dan itu ternyata tidak mudah. Namun banyak orang telah mencoba melakukannya.
Sebaliknya, tentu kita tahu daya hancur apabila kita kehilangan kesadaran untuk mengambil jalan ketiga. Apa yang terjadi kalau “gigi harus diganti dengan gigi”, kekerasan dengan kekerasan, kebobrokan dibalas dengan kebobrokan, kepincangan dibalas dengan kepincangan. Bukankah akan menimbulkan kekerasan, kebobrokan dan kepincangan baru. Atau seperti yang dikatakan Martin Luther, “kebencian dan dendam bila diselesaikan dengan kebencian akan menambah gelapnya malam yang sudah semakin pekat”. Manusia seperti apakah kita jadinya. Bukankah wajah kita akan menjadi srigala bagi yang lain? Atau mungkin lembu yang berhati serigala?; manusia yang sangat egoistic, bernafsu untuk mengoalkan kepentingan diri yang disiasati dengan cara-cara yang suci, lalu kehilangan hati yang simpatik dan empaty. Lantas dimanakah integritas hidup sebagai seorang beriman.
Jalan ketiga, jalan kehidupan, jalan yang menghormati sekecil apapun sebuah kehidupan dan potensi-potensinya, Jalan yang membangkitkan naluri biofilia ala Freud, jalan yang mengembalikan rel perjuangan hidup kepada Sang Jalan, kebenaran, dan hidup justru mendapat ujian kala berhadapan dengan konflik-konflik kepentingan. Yang dibutuhkan kala itu adalah kesabaran. Ketika itu pula biasanya kita sadar akan motivasi yang mengatasi kelemahan dan kekurang-sabaran kita sebagai manusia. Motivasi itu adalah motivasi adimanusiawi. Titik motivasi adimanusiawi terdalam adalah PASKAH: yang dimengerti sebagai kemauan Allah untuk menjadi manusia, yang menebus dari dalam, masuk dalam konflik-konflik manusia yang keras dan tajam, lalu menjadi pelaksanan kesaksian pilihan jalan kehidupan, atau jalan cinta itu sendiri.
Melalui peristiwa salib dan berpuncak pada paskah, Allah mau mengajarkan kepada setiap orang Kristiani tentang pelaksanaan pilihan jalan kehidupan. Inilah praktek jalan cinta yang rela memberi pipi kiri bila pipi kanan ditampar; rela memberi mantol kalau dimita baju; rela memberi pakaian kepada yang telanjang, tumpangan bagi yang butuh tempat berteduh, makanan kepada yang lapar, minuman kepada yang haus, tanpa harus menanyai apakah Ia itu Kristen, Islam, Hindu, Buddha, atau Kong Hu Cu, “orang kita atau bukan kita punya orang”. Asal itu adalah sesama, ditolong untuk lebih berkembang dan tidak mandul, lebih manusiawi, “lebih diorangkan bukan orang seolah-olah”, dan lebih bahagia; entah besar atau kecil, dipublikasikan di media sosial - informasi atau diam-diam hanya Tuhan yang tahu. Ini semua adalah pilihan jalan kehidupan yang telah dilakukan oleh Allah. Dan itu tidak mudah bagi kita, tetapi ini adalah inspirasi bagi kita sekaligus kita diundang untuk bercermin selalu kepada-Nya.
Akhirnya PASKAH yang dirayakan bukan sekedar proses penyegaran yang mengingatkan kita bahwa melalui Paskah-lah manusia diselamatkan; peristiwa dimana keselamatan secara riil terjadi, pilihan jalan kehidupan diaktualisasikan, bahkan melalui Paskah kita ditantang sekaligus dituntut untuk selalu berpihak, berpartisipasi, dan melakoni jalan yang dipilih Allah. Bila Allah telah mengorbankan diri demi teraktualisasinya jalan kehidupan, setiap perjuangan di jalan yang sama merupakan lanjutan perjuangan Allah dan perjuangan bersama dengan Allah di satu pihak. Karenanya di pihak lain kita tidak boleh lelah memperjuangkan jalan kehidupan lantaran dukungan motivasi terdalam mendapatkan sumbernya pada peristiwa Paskah: Allah rela mati agar manusia ditebus dan dipulihkan harkatnya serta disatu-saudarakan satu sama lain sebagai anak kesayangan-Nya. Lalu, apakah kita juga rela mati untuk itu? Atau justru kitalah biang (causa prima) konflik yang membangkitkan naluri nekrofilia ala Freud (kematian dan kemandulan)?