Cari

Pilih tema:
Selamat Datang ZI

POKJALUH PROPINSI BALI SAMBUT BAIK SE MENAG NO. 5 TH. 2022

Oleh :

Zumrotul Ulwiyah, S. Ag

( Ketua Pokjaluh Prop. Bali )


Penyuluh Agama Islam Propinsi Bali yg tergabung dlm Organisasi Pokjaluh Propinsi Bali menyambut baik dengan keluarnya  Surat Edaran Menteri Agama SE No.05 tahun 2022 tentang Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Mushola, yang mana aturan ini  sudah diatur jauh lebih dulu dengan SE Dirjen Bimas Islam No.Kp/D/101/1978 tentang Tuntunan Penggunaan Pengeras Suara/Toa Masjid di Langgar dan Mushola .

Penggunaan Toa/ Pengeras Suara dimaksudkan untuk tujuan Dakwah. Azan yang disiarkan lewat toa bertujuan untuk memberitahu awal waktu Sholat dan mengajak umat muslim untuk siap-siap ke Masjid melaksanakan Sholat Berjamaah.


Namun tak jarang, penggunaan pengeras suara/Toa Masjid ini memicu konflik di masyarakat. Hal ini perlu diatur kembali mengingat Populasi Masjid semakin banyak dan keriuhan suara speaker masjid  masih terjadi.


 Hal ini disebabkan karena beberapa hal, diantaranya :

1. Karena jarak antar Masjid saling berdekatan, sehingga speaker masjid saling bersahutan. 

2. Intensitas suara belum terukur karena masih diatur secara bebas oleh operator pengeras suara di Masjid dan Mushola.

 3. Suara Azan tidak diatur secara serempak di Masjid dan Mushola, misalnya azan, meski waktunya sama tapi pelaksanaan azan tidak bareng.

Untuk pengaturan pengeras suara, tapi juga pengaturan suara azan, supaya kumandang azan bersamaan, caranya dengan sistem sentralisasi azan, supaya tidak terjadi keriuhan suara azan dan supaya maslahat.

Jadi, istilah maslahat itu dalam hukum Islam selalu kembali kepada kepentingan terbaik manusia, khususnya umat Islam dan juga masyarakat yang majemuk itu.

Kalau bisa pedoman penggunaan pengeras suara di Masjid dan Mushola ditandatangani oleh Tokoh Masyarakat atau Tokoh Umat. misalnya, pedomannya ditandatangani oleh Ketua Umum DMI, ketua umum MUI, dan KaKemenag.

Kalau pedoman itu dikeluarkan bersama, landing (sampainya ke masyarakat) akan lebih enak, hubungan masyarakat dengan pemerintah juga enak. Jadi, tidak disalahpahami seolah-olah pemerintah masuk ke urusan masjid.

 Mudah-mudahan tidak disalahpahami.

( PenyuluhAgamaBergerak)