(Ura Hindu) Denpasar, 19 Pebruari 2018
Sejak zaman kuno, yaitu sekitar abad ke-9, masyarakat Bali telah mengenal sistem pemerintahan desa yang disebut Desa Pakraman. Seiring dengan perjalanan waktu, keberadaan desa pakraman di Bali dapat tetap terjaga dengan kompleksitas yang semakin meningkat. Untuk itu perlu ada tindakan atau upaya-upaya antisipatif terhadap permasalahan-permasalahan yang ada ataupun yang akan timbul di kemudian hari agar keberadaan desa pakraman sebagai kearifan lokal dapat tetap terjaga dengan baik. Bendesa sebagai pemimpin di setiap desa pakraman telah memberi kontribusi dalam terwujudnya kerukunan yang dijiwai filosofi ajaran Tat Twam Asi, serta konsep hidup segilik-seguluk sabayantaka dan paras paros sarpanaya. Dimana konsep-konsep tersebut perlu dipertebal kembali dalam penerapannya.
Bidang Urusan Agama Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama Propinsi Bali sebagai salah satu satuan kerja instansi pemerintah di Propinsi Bali menyelenggarakan Kegiatan Dialog Kerukunan Bendesa Adat se-Bali pada tanggal 17 Pebruari 2018 dengan maksud untuk memfasilitasi Bendesa Adat sehingga dapat berdialog dan berkoordinasi antara yang satu dengan yang lainnya. Kegiatan yang dilaksanakan di Gedung Citta Kelangen Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar (Jalan Nusa Indah, Kota Denpasar) ini memiliki beberapa tujuan, yaitu meningkatkan kerukunan Bendesa Adat se-Bali; meningkatkan pengetahuan manajemen desa pakraman; meningkatkan kepekaan sosial bagi Prajuru Bendesa Desa Pakraman; mengidentifikasi permasalahan di tiap desa pakraman; serta menyamakan persepsi dalam menyelesaikan masalah dan kasus-kasus adat.
Narasumber yang diundang dalam kegiatan dialog ini adalah Ketua Majelis Utama Desa Pakraman (MUDP) Propinsi Bali (Jero Gede Suwena Putus Upadesha) dengan materi “Optimalisasi Manajemen Desa Pakraman”, Ketua PHDI Propinsi Bali (Prof. Dr. Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si) dengan materi “Tradisi Kerukunan Dalam Perspektif Agama, Adat dan Budaya Bali” dan dari kalangan akademisi (Prof. Dr. Ida Bagus Gde Yudha Triguna, MS) dengan materi “Meningkatkan Kepekaan Sosial Prajuru Desa Pakraman”.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Propinsi Bali sangat mengapresiasi dan berterima kasih kepada Gubernur Bali yang dalam kesempatan ini diwakili oleh Kepala Dinas Kebudayaan Propinsi Bali (Dewa Putu Beratha), semua narasumber dan utamanya seluruh Bendesa Adat karena di tengah-tengah kesibukannya sudah meluangkan waktu untuk dapat menghadiri kegiatan ini. Beliau juga berterima kasih kepada seluruh panitia dan fasilitator serta seluruh elemen yang terlibat dalam perencanaan hingga terlaksananya kegiatan ini. Beliau berpesan kepada seluruh Bendesa Adat untuk senantiasa membangun desa pakraman, berkontribusi terhadap pembangunan Bali serta sebisa mungkin menghindari terjadinya konflik antar desa pakraman.
Selanjutnya Gubernur Propinsi Bali yang diwakili oleh Kepala Dinas Kebudayaan Propinsi Bali memberikan kata sambutan sekaligus membuka Kegiatan Dialog Kerukunan Bendesa Adat se-Bali. Dalam sambutannya Beliau menyampaikan bahwa Pemerintah Propinsi Bali mengapresiasi Kantor Wilayah Kementerian Agama Propinsi Bali yang telah memprakarsai kegiatan dialog sebagai salah satu upaya untuk menyatukan pemikiran dan langkah dalam membangun desa pakraman terutama dalam memelihara kerukunan di seluruh wilayah desa pakraman. Pemerintah Propinsi Bali berharap isu-isu dan permasalahan sensitif dan kompleks yang menyangkut kerukunan hidup bermasyarakat yang selama ini belum tuntas diselesaikan dalam lingkup desa pakraman turut dibahas dan dihasilkan solusi. Sejalan dengan perkembangan globalisasi, terdapat beberapa potensi yang mengancam kondisi rukun dan harmonis, untuk itu kebersamaan dan koordinasi semua pihak terkait harus selalu dimantapkan. Beliau menegaskan situasi rukun, damai dan aman harus terus dibangun dan menjadi tanggung jawab seluruh komponen masyarakat untuk bersama-sama mewujudkannya.
Setelah dibuka secara resmi, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh ketiga narasumber secara panel. Sedangkan dalam sesi diskusi dan tanya jawab, Bendesa Adat yang hadir diberi kesempatan untuk mengungkapkan permasalahan yang ada di desa pakraman masing-masing. Hal tersebut kemudian ditanggapi oleh narasumber yang kemudian dicari bersama-sama solusi terbaiknya sehingga dapat digunakan oleh seluruh Bendesa Adat apabila di desa pakramannya muncul permasalahan yang hampir sama seperti yang telah diungkapkan oleh Bendesa Adat dalam sesi diskusi. Mengingat pentingnya maksud dan tujuan serta bergunanya kegiatan dialog ini bagi Bendesa Adat maka Bendesa Adat yang hadir sebagai peserta dalam kegiatan dialog kali ini berharap agar kegiatan serupa dapat dilaksanakan kembali di tahun mendatang dengan durasi sesi diskusi yang lebih panjang. (ts)