Cari

Pilih tema:
Selamat Datang ZI

Focus Group Discussion. "penanggulangan radikalisme dan terorisme di wilayah bali"

Focus Group Discussion. "penanggulangan radikalisme dan terorisme di wilayah bali"


Inmas Bali, Rabu 4 Desember 2019, bertempat di Grend Santhi Hotel Denpasar, digelar acara yang bertajuk Focus Group Discussion. "penanggulangan radikalisme dan terorisme di wilayah bali", yang terselenggara oleh Polda Bali.


Acara ini dihadiri oleh Narasumber dari Kesbangpol Prov. Bali, Kanwil Kemenag Prov. Bali, Ketua Forum Penanggulangan Terorisme Prov. Bali, Dir. Intelkam Polda Bali, serta para undangan dari tokoh masyarakat,  mulai dari Raja Puri Pemecutan, tokoh dan majelis Agama di Prov. Bali, dengan para peserta dari TNI Polri, perwakilan seluruh Agama yang ada di Prov. Bali. 


Acara diawali oleh doa bersama sesuai keyakinan agama masing-masing, bersama menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dilanjutkan sambutan dari Dir. Intelkam Polda Bali,  yang dalam sambutan singkatnya mengatakan bahwa di Bali adalah daerah yang masyarakatnya memiliki toleransi beragama sangat tinggi. Masyarakat Bali tidak pernah membedakan antara pendatang dan pribumi,  jadi kedamaian ini janganlah diusik oleh tragedi seperti tahun lalu, ada bom yang sangat menjadikan aset pariwisata Indonesia menjadi kacau dan buruk dimata luar negeri. Jadi mari bersama-sama untuk menanggulangi yang namanya radikalisme dan intoleransi, ungkap Dir. Intekam Polda Bali dilanjutkan membuka acara secara resmi. 


Kepala Kanwil Kemenag Prov. Bali, I Nyoman Lastra, yang hadir sebagai Narasumber dalam kegiatan ini membawakan materi penanggulangan radikalisme dan terorisme dari sudut pandang agama. Nyoman Lastra mengatakan bahwa temuan dan hasil riset saipul umar menyatakan, khusus di kalangan guru tk hingga sma terindikasi paham intoleransi dan radikalisme 50%, dan 46% memiliki opini radikal. Walaupun lebih kecil tetapi populasi ini sangat menghawatirkan untuk generasi penerus bangsa ini. Guru tidak boleh radikal karena guru adalah pencetak warna dari generasi bangsa ini. Saya setuju radikal ini tidak tertuju pada Agama tertentu tetapi semua, dan apapun keyakinan kita bisa saja menjadi orang yang radikal, karena radikal ini adalah idiologi, tidak ada satu agamapun mengajarkan sesuatu yg tidak baik, karena agama hadir seharusnya mampu menciptakan perdamaian,ungkap Nyoman Lastra.


Nyoman Lastra juga menegaskan, saat ini agama banyak ditarik-tarik oleh suatu kepentingan oknum tertentu. Bagi orang indonesia Agama adalah segalanya, hampir 100% warga Indonesia beragama dan di Indonesia Agama menjadi hal yang sangat sensitif,  maka banyak yang memanfaatkan Agama untuk kepentingan oknum tertentu. Jadi kami dari Kemenag untuk menanggulangi intoleransi dan radikalisme, Kemenag sedang hangat membangun visi moderasi beragama. Moderasi ini bukan moderasi agama, tetapi moderasi beragama, karena yang salah adalah cara memahami ajaran Agama itu sendiri. Kita menginginkan yang Hindu, Islam, Kristen,Katolik, Buda, dan Kong hu cu, harus mampu memahami dengan baik dan benar ajaran agamanya masing-masing.Akhir kata dari moderasi beragama,semoga kita semua mampu menangkal radikalisme dan intoleransi di Negeri yang kita cintai dan terimakasih kepada pihak Polda Bali menyelenggarakan acara ini, yang dapat mempertemukan kami dengan seluruh elemen yang terkait dan semoga kedepan kita semua dapat bersama-sama menjaga kedamaian hidup beragama,tutup Nyoman Lastra,  yang dilanjutkan dengan foto bersama. (tam) 


Galeri Foto-foto

Berita Sebelumnya
Tantangan Kehumasan Kementerian Agama Yang Harus Profesional, Kreatif dan Inovatif
Berita Berikutnya
Upacara Ziarah dan Tabur Bunga Serangkaian HAB ke 74 Kementerian Agama RI di Provinsi Bali.

Rekomendasi:

Berita Terbaru: