(Humas Bali) Keuskupan Denpasar Selasa, 29 September 2020 menggelar acara Bincang Asik ( BISIK ) Komisi Komsos dan Komisi HAK Keuskupan Denpasar yang mengahadirkan P. Paskalis Nyoman Widastra, SVD ( Ketua Komisi HAK Keuskupan Denpasar ), Drs KH Mustafa Al Amin, SH, MHI, M.Pd. ( Ketua Dewan Pertimbangan MUI Kota Denpasar ), dan Komang Sri Marheni, S.Ag. M.Si ( Kepala Kantor Wilayah Kementerian Provinsi Bali ).
Bertempat di Keuskupan Denpasar acara ini disiarkan secara langsung melalui media daring Keuskupan Denpasar. Kegiatan ini mengangkat tema “Orang Muda Tebarkan Semangat Toleransi Nasionalisme, dan Solidaritas”. Plt. Pembimas Katholik Kanwil Kementerian Agama Provinsi Bali Yulianus Akadius Gale, S.Ag dalam sambutannya menyampaikan beberapa hal penting yaitu guna memelihara persatuan dan kesatuan dimasa pandemi seperti sekarang ini perlu ditanamkan nilai nilai Toleransi Nasionalisme, dan Solidaritas pada generasi muda untuk mampu membangun rasa empati terhadap saudara kita yang terkena dampak dari pandemi covid 19 ini.
Sementara itu Mgr DR Silvester San selaku Uskup Denpasar menyampaikan di masa pandemi seperti sekarang ini membuat masyarakat berada dalam kesulitan. Sehingga perlu adanya rasa saling tolong menolong dengan sesama. “Kita harus membangun rasa kesetiakawanan dengan penguatan toleransi, nasionalisme, dan solidaritas orang muda atau mahasiswa lintas agama” ujar Silvester San.
Komang Sri Marheni mengutarakan hal yang dicemaskan dari generasi muda saat ini adalah mulai lunturnya rasa gotong royong dan menyama braya.”Orang muda saat ini harus dibekali dengan nilai tradisi dan karakter yang harus lebih dikuatkan lagi, karena budaya dan tradisi di Bali ini harus dipertahankan agar tetap ajeg” Ujar Marheni ketika ditanya pendapatnya terkait kecemasannya terhadap generasi muda saat ini.
Acara ini cukup diminati oleh mahasiswa dan generasi muda tidak hanya di Bali saja tetapi juga beberapa wilayah di Indonesia. Mereka pun berkesempatan untuk melakukan interaksi tanya jawab dimana beberapa poin pertanyaan itu menyoroti keberagaman dan kebhinekaan kita. Komang Sri Marheni menyampaikan bahwa kita sebagai umat beragama harus sadar dengan keberagaman dan kebhinekaan ini yang sudah ada bukan karena kita ingin, tetapi sudah kehendak dari Tuhan. Sehingga kita harus memandang perbedaan itu sebagai suatu keindahan bukan melihat perbedaan dari kacamata sempit. Satu hal ditekankan menyoroti keberagaman adalah bahwa radikalisme itu bukan Indonesia. Pernyataan tegas itu menyampaikan bahwa tindak kekerasan yang mengatasnamakan suatu agama jelas bukan karakter bangsa Indonesia, karena hakikatnya bangsa Indonesia itu adalah menghargai perbedaan dengan berlandaskan Pancasila.(sn)