(Humas Bali) Dalam sebuah organisasi Gereja, apapun bentuk dan alirannya, kedudukan dan peranan pemimpin gereja sangat menentukan. Keberadaan pemimpin gereja dalam hal ini pendeta atau gembala biasanya sangat berpengaruh terhadap aspek pembinaan rohani umat. Karena pembinaan rohani, pendidikan dan kelancaran berputarnya roda organisasi gereja tergantung pada kualitas dan pengalaman pribadi pemimpinnya. Perlu kita sadari bahwa bangsa dan negara kita sedang mengalami berbagai krisis multidemensi, sehingga membutuhkan pemimpin-pemimpin yang siap menghadapi berbagai tantangan dan perubahan. Untuk tujuan inilah maka Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali selaku pihak Pemerintah melaksanakan kegiatan Dialog Pimpinan Lembaga Agama dan Keagamaan Kristen Tahun Anggaran 2021.
Gereja merupakan partner kerja Pembimbing Masyarakat Kristen sebagai perpanjangan tangan pemerintah untuk terwujudnya kesatuan, dan kemajuan umat Kristen di Provinsi Bali ini. Untuk itu umat Tuhan, gereja, maupun hamba-hamba Tuhan yang melayani, perlu senantiasa meningkatkan hubungan, baik secara intern, antar gereja maupun dengan pemerintah, sehingga Kabar Baik yang diwartakan dapat memberikan suasana yang segar dan harmonis ditengah-tengah kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga pelayanan Tuhan melalui gereja dapat tetap berjalan dengan baik.
Pembimbing Masyarakat Kristen pada Kanwil Kementerian Agama Provinsi Bali Rabu, 17 Maret 2021 menggelar kegiatan Dialog Pimpinan Lembaga Agama dan Keagamaan Kristen bertempat di Kuta Central Park Hotel Kabupaten Badung. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan dan mengembangkan pengetahuan, keterampilan, kepribadian, serta sikap mental Pimpinan Gereja, agar dapat menjadi teladan terhadap umat serta menyatukan bahasa dan pola pikir para pimpinan gereja dalam melaksanakan tugas mengajar, mendidik, serta membimbing umat, sesuai dengan semangat kerukunan dan persaudaraan antar umat beragama.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali Komang Sri Marheni dalam arahannya menyampaikan bahwa peran tokoh agama dimasa pandemi ini cukup penting. “Sebagai tokoh agama harus mampu menjadi contoh bagi masyarakat dalam hal penerapan protokol kesehatan. Saat ini masyarakat perlu informasi yang benar. Berkembangnya informasi yang tidak valid ditengah masyarakat harus mampu dinetralisir oleh tokoh agama sebagai panutan dari masyarakat.” jelas Marheni.
Tokoh agama masih menjadi partner penting dari pemerintah dalam menyampaikan pesan dalam program penerapan protokol kesehatan. Penting untuk masyarakat agar mau disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan agar pandemi ini bisa segera berakhir. “Kita harus mampu meningkatkan iman kita agar imun tubuh kita juga meningkat” ujar Marheni.
Dialog ini diikuti 40 orang peserta dari unsur Perwakilan Musyawarah Pelayanan Umat Kristen (MPUK) Kabupaten/Kota se Bali, Pimpinan Sinode dan Pimpinan Gereja Antar denominasi gereja. (sn)