Cari

Pilih tema:
Selamat Datang ZI

Menyambut Hari Suci Nyepi dengan Mengedepankan Toleransi

(Humas Bali) Nyepi yang merupakan hari suci bagi umat Hindu sebagai momen dalam memperingati tahun baru saka. Makna dari perayaan Hari Suci Nyepi yaitu melakukan Catur Brata Penyepian. Catur Brata Penyepian yaitu 4 pantangan yang wajib dilaksanakan dan dipatuhi umat Hindu, diantaranya amati karya (berpantang melakukan aktivitas kegiatan atau bekerja dalam bentuk apa pun saat Nyepi berlangsung), amati geni (berpantang menyalakan api, lampu, dan benda elektronik lainnya), amati lelungan (berpantang untuk bepergian. Hal ini bertujuan agar umat Hindu khusuk beribadah selama satu hari penuh), dan amati lelanguan (berpantang untuk bersenang-senang saat Nyepi). 

Menjelang Nyepi sendiri terdapat beberapa rangkaian upacara yang dilaksanakan oleh umat Hindu di Bali mulai dari Melasti, Tawur Agung Kesanga, hingga Pengerupukan.

Dikutip dari Wikipedia, Melasti adalah upacara pensucian diri untuk menyambut hari raya Nyepi oleh seluruh umat Hindu di Bali. Upacara Melasti digelar untuk menghanyutkan kotoran alam menggunakan air kehidupan. 

Upacara Melasti dilaksanakan dipinggir pantai dengan tujuan mensucikan diri dari segala perbuatan buruk pada masa lalu dan membuangnya ke laut. Dalam kepercayaan Hindu, sumber air seperti danau, dan laut dianggap sebagai air kehidupan (tirta amerta). Selain melakukan persembahyangan, upacara Melasti juga adalah pembersihan dan penyucian benda sakral milik pura (pralingga atau pratima Ida Bhatara dan segala perlengkapannya). Benda-benda tersebut diarak dan diusung mengelilingi desa. Hal ini dimaksudkan untuk menyucikan desa. Dalam upacara ini, masyarakat dibentuk berkelompok ke sumber-sumber air seperti danau dan laut. Satu kelompok berasal dari wilayah atau desa yang sama.

Rangkaian selanjutnya menyambut Nyepi yaitu Tawur Agung Kesanga. Tawur Agung Kesanga adalah upacara Bhuta Yadnya yang dilakukan untuk kesejahteraan dan keselarasan alam. Yadnya ini dilaksanakan untuk kesejahteraan alam. Keseimbangan dan keselarasan alam menjadi fokus utama selama hidup di dunia.

Pelaksanaan upacara ini sendiri bermakna untuk membayar atau mengembalikan sari-sari dari alam yang telah diambil oleh manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya setiap hari. Pengembalian kemudian dilakukan dengan upacara yang ditujukan kepada para Butha, agar mereka tidak mengganggu manusia di kemudian hari.

Pelaksanaan Tawur Agung Kesanga biasanya akan dilanjutkan dengan pawai dan arak-arakan ogoh-ogoh yang memiliki wujud Bhuta Kala atau simbol kejahatan. Ogoh-ogoh ini diarak keliling desa atau kampung adat, untuk kemudian akhirnya dibakar.

Pada malam harinya dilaksanakan upacara pengerupukan yang mana merupakan tradisi yang masih bertahan di Bali. Pada saat pengerupukan akan ada banyak ogoh-ogoh yang turun ke jalan. Ogoh-ogoh adalah karya seni patung dalam kebudayaan Bali yang menggambarkan kepribadian Bhuta Kala., Bhuta Kala merepresentasikan kekuatan (Bhu) alam semesta dan waktu (Kala) yang tak terukur dan tak terbantahkan. Ogoh-ogoh melambangkan elemen buruk yang harus dihancurkan dan membawa kembali unsur yang baik untuk lingkungan. Bentuk dan sosok ogoh-ogoh biasanya berukuran besar dan berbentuk menakutkan untuk menggambarkan sifat buruk yang ada di dunia.  Ogoh-ogoh diarak  keliling desa dengan membawa obor dan diiringi gamelan bleganjur. Belakangan ini ogoh-ogoh mengalami transformasi menyesuaikan jaman yaitu mulai memakai mesin sehingga badan ogoh-ogoh bisa digerakkan . 

Keesok harinya Tahun Baru Saka di Bali dimulai dengan menyepi. Tidak ada aktivitas seperti biasa, semua kegiatan ditiadakan.  Pada hari Raya Nyepi  umat Hindu melaksanakan "Catur Brata" Penyepian yang terdiri dari amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). Proses Nyepi dimulai pukul 6 pagi hingga 24 jam kemudian.

Tahun 2023 ini Hari Suci Nyepi jatuh bertepatan dengan pelaksanaan salat tarawih pertama bagi umat Islam. Umat Islam di Bali pun turut serta menyambut datangya bulan suci Ramadhan. Melalui laporan tangkap layar dari informasi pada sosial media umat Islam di Kabupaten Buleleng melakukan kirab menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Menjadi istimewa karena kirab ini bersamaan dengan pelaksanaan melasti yang dilakukan oleh umat Hindu.

Pemandangan ini menjadi begitu mencerminkan betapa rasa toleransi antar umat beragama telah meresap dalam kehidupan bermasyarakat di Bali. Toleransi juga yang menjadi dasar bagi umat Islam untuk melakukan ibadah salat tarawih pertama dirumah masing masing atau dirumah ibadah terdekat dengan berjalan kaki dan juga menggunakan pencahayaan yang dibatasi.

Hal ini tertuang dalam Seruan Bersama Majelis Agama dan Lembaga Sosial Keagamaan Provinsi Bali tentang Pelaksanaan Rangkaian Hari Suci Nyepi Tahun Caka 1945. Seruan bersama ini sendiri menjadi pedoman dan panduan dalam pelaksanaan Catur Brata Penyepian yang juga bertepatan dengan pelaksanaan Salat Tarawih Pertama agar umat beragama khususnya umat Islam dan Hindu dapat menjalankan ibadah dengan lancar. (sn)


Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Melasti

https://www.djkn.kemenkeu.go.id/kpknl-denpasar/baca-artikel/14797/Rangkaian-Upacara-Menjelang-Nyepi.html

https://www.suara.com/news/2023/03/20/145242/apa-itu-tawur-agung-kesanga-ini-pengertian-makna-dan-tujuannya


Berita Sebelumnya
Ka. Kanwil Komang Sri Marheni Hadiri Mediasi Permasalahan PPSNKK
Berita Berikutnya
Piodalan Di Pura Dharma Bakti Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali

Rekomendasi:

Berita Terbaru: