(Inmas Bali) Pemerintah pada tanggal 22 Oktober tahun 2015 yang lalu telah mengambil kebijakan, menetapkan bahwa tanggal 22 Oktober adalah Hari Santri Nasional. Hal ini merupakan pernyataan bahwa pemerintah sadar betul bahwa kontribusi, sumbangsih kaum santri terhadap bangsa dan negara ini sungguh luar biasa. Karenanya penetapan hari santri hakekatnya adalah wujud tidak hanya rekognisi, tidak hanya pengakuan, tetapi juga sekaligus penghargaan negera melalui pemerintah terhadap kaum santri atas jasa-jasanya dalam ikut menjaga, memelihara dan merawat bangsa kita tercinta. selain pengakuan, selain penghargaan negara kepada santri, maka penetapan hari santri sesungguhnya dimaksudkan sebagai penegasan sebagai peneguhan tanggungjawab santri terhadap negara. Jadi dengan adanya hari santri, kaum santri itu dikukuhkan untuk memiliki kesadaran yang tinggi akan tanggung jawabnya terhadap ekssistensi negara bangsa, terhadap masa depan bangsa negara kita tercinta.
Berpedoman hal tersebut, maka Kanwil Kementerian Agama Provinsi Bali pada hari Senin, 23 Oktober 2017 menggelar apel peringatan hari Santri yang dipimpin oleh Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Bali Bapak I Nyoman Lastra, S.Pd, M.Ag. Dalam apel peringatan ini beliau membacakan sambutan Menteri Agama pada puncak peringatan Hari Santri tanggal 22 Oktober 2017 di Lapangan Simpang Lima Semarang. Beberapa hal yang disampaikan yaitu bahwa pondok pesantren yang ada di wilayah Nusantara yang begini luasnya, maka Islam yang diajarkan pondok pesantren adalah Islam yang menebarkan rahmat bagi alam semesta. pondok pesantren dimana pun berada yang kemudian lalu diwujudkan, terlihat dari para lulusannya, para santri-santri nya, adalah penyikapannya terhadap keragaman. Dimana pun pondok pesantren, dimana pun santri –santri itu berada pastilah ia adalah orang yang cintanya kepada tanah air, luar biasa. Tidak ada santri yang tidak cinta kepada tanah airnya.
Terakhir dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa santri itu perlu juga mengasah rasa. Ini bagian yang penting selain kemampuan intelektualnya, kemampuan nalarnya, ibadahnya dan seterusnya. Tapi olah rasa itu menjadi semakin penting, karena kompleksitas persoalan itu memerlukan setiap kita dalam beragama itu juga menggunakan rasa. Itulah mengapa dalam memperingati hari santri, sejak tahun lalu kita mengangkat hal-hal yang terkait dengan rasa ini.(sn)