(Humas Bali) - G20 Religion of Twenty atau yang dikenal (R20) secara resmi digelar Rabu (2/11/2022) hingga Kamis (3/11/2022). Forum R20 berlangsung di Hotel Grand Hyatt, Nusa Dua, Bali dan dibuka secara resmi oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo.
Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla dan sejumlah Menteri Kabinet Indonesia Maju Presiden Joko Widodo (Jokowi) menghadiri pembukaan Forum Agama G20 yang dikenal dengan Religion Twenty atau R20. Anggota kabinet Jokowi yang hadir antara lain: Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Prof Mahfud MD, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Prof Muhadjir Effendi, Menteri Agama H Yaqut Cholil Qoumas, Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Tohir.
Gubernur Bali I Wayan Koster juga terlihat hadir dalam pembukaan Forum R20. Forum R20 diinisiasi oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Chilil Staquf dan didukung oleh Liga Muslim Dunia atau Muslim World League (MWL). Sekretaris Jenderal MWL Syekh Mohammed Al-Issa juga turut hadir.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali Komang Sri Marheni pun berkesempatan hadir memenuhi undangan pembukaan event R20 ini.
Forum dialog para pemimpin agama dan sekte dunia itu menghadirkan 40 pembicara dengan jumlah peserta sebanyak 464 partisipan.
Pembukaan Forum R20 ditandai dengan penabuhan rebana tamborin di atas panggung oleh para tokoh yang hadir. Mereka yang tampil di atas panggung utama tersebut antara lain Rais 'Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, Sekretaris Jenderal Liga Muslim Dunia Syekh Mohammed Al-Issa, Jusuf Kalla, dan para menteri yang hadir.
Dalam sambutannya Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) mengaku gembira dengan kehadiran para delegasi dari berbagai negara di Forum R20.
"Selamat datang di Bali, sebuah tanah tempat di mana pemeluk Hindu berada yang mengizinkan NU, organisasi Muslim terbesar dan Liga Muslim Dunia, organisasi terpenting di dunia Islam, untuk membawa inisiatif di sini, di pulau ini, dengan semua para pemimpin agama berkumpul dari seluruh dunia," kata Gus Yahya.
Menurut Gus Yahya, Forum Agama G20 atau R20 merupakan inisiatif yang tulus dan kemauan spiritual yang baik dari orang-orang beragama dari kepedulian yang lebih tulus dari semua pemeluk agama tentang masa depan umat manusia. "Kita harus berharap agar prakarsa ini memberikan tempat yang terhormat dan signifikan dalam dinamika global untuk perjuangan umat manusia untuk mencari solusi bagi berbagai masalah dalam dinamika global," tambahnya.
Sementara itu Presiden RI Joko Widodo dalam sambutannya menyampaika bahwa Indonesia adalah negara yang sangat majemuk dalam suku bahasa dan agama tetapi dipersatukan oleh ideologi negara yaitu Pancasila.
“Kami dipersatukan oleh toleransi dan persatuan yaitu bhinneka tunggal Ika (Unity in Diversity),” jelasnya.
Kontribusi tokoh-tokoh agama, kata Presiden, juga berperan penting dalam menangani pandemi Covid-19.
“Keberhasilan yang dicapai Indonesia saat ini termasuk dalam menangani pandemi Covid-19 juga berkat kontribusi tokoh-tokoh agama, masjid, gereja, pura, vihara dan klenteng telah menjadi pusat literasi masyarakat di berbagai bidang,” tegasnya.
Menurut Presiden, gotong royong lintas pemeluk agama juga menjadi kebanggaan Indonesia.
“Kehadiran bapak dan ibu di forum Religion Twenty (R20) ini sangat membanggakan kami. Indonesia ingin belajar dari Bapak Ibu sekalian yang hadir dari berbagai negara. Kami rakyat Indonesia juga siap berbagi pengetahuan dan pengalaman yang juga sangat penting adalah kita tokoh agama dari berbagai agama dan dari berbagai negara harus bekerja sama,” ujarnya.
“Bekerja sama untuk meningkatkan kontribusi agama dalam menyelesaikan masalah-masalah dunia untuk mengurangi rivalitas dan menghentikan perang demi dunia yang damai, dunia yang bersatu, dunia yang bekerja sama untuk mewariskan kebaikan bagi generasi mendatang,” imbuhnya.
Di hadapan tokoh agama dari berbagai negara, Menag Yaqut Cholil Qoumas juga berbagi tentang Pancasila dan keberhasilan Indonesia menghadapi pandemi.
Menag mengawali sambutannya dengan memaparkan paradoks globalisasi. Menurutnya, globalisasi telah mengintegrasikan manusia dalam kultur global tapi sekaligus membelah dan membangun stratifikasi baru yang mengakibatkan banyak kaum miskin di berbagai negara yang ekonominya lemah dan makin menderita.
Paradoks lainnya, bencana pandemi yang mengglobal, juga menghadirkan solidaritas. Di dalam pandemi, semua orang sama-sama menghadapi risiko di hadapan keganasan virus yang mematikan. Pandemi telah membangkitkan militansi akal budi.
"Indonesia jelas bukanlah bangsa yang memiliki kekuatan hebat untuk berpacu dalam kompetisi teknologi dan sains, secara ekonomi Indonesia juga tidak memiliki kemakmuran materiil sebagaimana sebagian besar negara-negara sahabat anggota G20 lainnya. Namun demikian, dalam menghadapi bahaya dan masalah, Indonesia terbukti sama tangguhnya dengan bangsa-bangsa maju lainnya," jelas Menag di Bali, Rabu (2/11/2022). (sn)
Foto: Ulik dan Humas HDI