Cari

Pilih tema:
Selamat Datang ZI

Dharma Santi Hari Suci Nyepi Caka 1947, Merawat Semangat Moderasi dalam Kebhinekaan

Denpasar (Kemenag) – Kanwil Kemenag Prov. Bali menggelar Dharma Santi Hari Suci Nyepi Tahun Caka 1947, bertempat di Aula Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali dan dihadiri oleh Kakanwil Kemenag Provinsi Bali Komang Sri Marheni, Kabag TU H. Syarif Hidayatullah, seluruh pejabat Eselon III pada Kanwil Kemenag Provinsi Bali, KaKemenag Kabupaten/Kota se-Bali, Dharma Wanita Persatuan, Ketua Tim, segenap ASN dan PPPK Kanwil Kemenag Provinsi Bali, Rabu (16/4/2025).

Dengan tema “Melalui Dharmasanti Nyepi Kita Perkuat Moderasi Beragama dan Harmoni dalam Bingkai Kebhinekaan” Kakanwil Komang Sri Marheni mengawali sambutannya dengan mengucapkan Selamat Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1947. Kakanwil menyampaikan bahwa perayaan Hari Suci Nyepi bukan sekadar momentum ritual tahunan, tetapi sebuah perenungan spiritual yang dalam. Melalui Catur Brata Penyepian yaitu amati geni, amati karya, amati lelungan dan amati lelanguan, manusia diajak kembali ke dalam diri, menyucikan pikiran, perkataan dan perbuatan.

Rangkaian Hari Suci Nyepi sejatinya adalah perjalanan spiritual dan sosial yang sangat relevan dengan semangat moderasi beragama dan harmoni dalam kebhinekaan. Pengrupukan atau Tawur Agung adalah simbol harmoni kosmis, dimana manusia tak hanya menyeimbangkan energi alam, tapi juga belajar berdamai dengan sisi gelap diri sendiri.

“Menaklukkan bhuta-kala bukan hanya di luar, tapi di dalam diri yang gelap oleh ego.  Catur Brata penyepian adalah puncak disiplin spiritual,” ujar Komang Sri Marheni.

Berpegang pada ajaran Tat Twam Asi, Tri Hita Karana dan Menyama Braya, yang telah sejak lama menjadi fondasi kehidupan sosial yang harmonis. Dimana Nilai-nilai ini sejalan dengan semangat moderasi beragama yang diusung oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.

“Saya mengajak seluruh elemen masyarakat, umat Hindu maupun lintas agama, untuk terus memperkuat sinergi dan dialog antarumat. Kita rawat toleransi, kita jaga kedamaian dan kita wariskan budaya rukun kepada generasi mendatang,” kata Kakanwil.

Kepala Bidang Urusan Agama Hindu Wayan Diadnyana selaku Ketua Panitia dalam laporannya menyampaikan bahwa Catur Brata Penyepian adalah waktu tepat untuk melakukan kontemplasi dan menjadi momentum introspeksi dan evaluasi diri, serta mengingatkan bahwa pelayanan yang baik terhadap sesama manusia sama dengan memberikan pelayanan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa.

Dilanjutkan dengan Dharma Wacana yang diisi oleh Ida Pedande Gede Dangin dari Griya Gede Manuaba Carangsari Petang Badung,  dengan topik Peran Serta Agama Hindu dalam Pelestarian Lingkungan yang dirangkai dengan penyerahan buku hasil karya Ida Pedande Gede Dangin sebagai cendera mata.

Rangkaian kegiatan Dharma Santi ini juga diisi dengan Pembacaan Sloka yang diiringi Tabuh Gender SD Dwijendra, Tarian Panyembrama, upaksama dan Hiburan yang dipersembahkan oleh Suka Duka Kanwil Kemenag Prov. Bali, kesuksesan pelaksanaan acara ini juga berkat kolaborasi dengan UD. Kamasan Klungkung. (Anm/Cok)


Berita Sebelumnya
Jambore Pasraman Nasional (Jampasnas) IV
Berita Berikutnya
Kemenag Luncurkan Gerakan Tanam Sejuta Pohon Matoa dan Bangun Pesantren Internasional Ramah Lingkungan

Rekomendasi:

Berita Terbaru: