Cari

Pilih tema:
Selamat Datang ZI

Membuka Orientasi Pelopor Penguatan Moderasi Beragama, KaKanwil Menekankan Perbedaan Merupakan Keniscayaan

(Humas Bali) – Moderasi Beragama terus dibumikan di Nusantara ini, salah satu upaya dari Kementerian Agama melalui Pusat Kerukunan Umat Beragama dengan menggelar Orientasi Pelopor Penguatan Moderasi Beragama di Wilayah Provinsi Bali. Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali Komang Sri Marheni, Rabu (25/10/2023) bertempat di Hotel Santika Seminyak Kabupaten Badung, berkesempatan untuk membuka kegiatan tersebut.

Kementerian Agama saat ini berupaya hadir lebih dalam guna menginternalisasikan nilai-nilai moderasi beragama, dalam upaya menjaga dan memperkuat kerukunan umat beragama yang diharapkan akan memperkuat komitmen kebangsaan yaitu menerima Pancasila sebagai ideologi negara, UUD 1945 sebagai konstitusi, dan NKRI sebagai pilihan bentuk negara Indonesia.  

Moderasi beragama telah menjadi sebuah pemikiran baru yang dilahirkan oleh Kementerian Agama yang mana merupakan bagian dari tujuh program prioritas untuk menjaga, merawat negara kesatuan Indonesia untuk tetap moderat, tetap toleran, tetap damai, rukun dan berdaulat sehingga masyarakat dapat beraktifitas dengan baik. 

Didampingi oleh Ketua Tim Kerja Ortala dan KUB, Komang Sri Marheni dalam sambutannya mengajak peserta yang merupakan tokoh agama dan pengurus rumah ibadah untuk bersama menjaga stabilitas kerukunan hidup umat beragama dalam menghadapi tahun politik.

“Mari kita bersama menjaga fungsi sesungguhnya dari rumah ibadah bukan sebagai alat politik selama pesta demokrasi mendatang,” ajak KaKanwil. 

Berbicara mengenai Moderasi Beragama, Komang Sri Marheni menekankan bahwa perbedaan itu merupakan keniscayaan. Apa yang berbeda tidak dapat disamakan, dan yang sama tidak dapat dibedakan.

“Perlu diketahui bahwa masyarakat Bali memegang filosofi Vasudhaiva Kutumbakam yang dapat diartikan sebagai satu keluarga dari seluruh isi dunia, atau seluruh isi dunia adalah satu keluarga yang diperkuat lagi dengan Menyama Braya yaitu kearifan lokal Bali yang di dalamnya mengandung nilai-nilai plural yang menganggap orang lain adalah saudara, sama dengan dirinya. Sehingga dengan berpegang teguh pada filosofi ini, masyarakat Bali mampu hidup selaras dan menjaga budayanya tetap ajeg (teratur/tidak berubah),”jelas KaKanwil.

Perlu diketahui, moderasi bergama adalah bukan agama yang dimoderasi, tetapi beragamanya perlu dimoderasi, yaitu cara pandang kita, sikap maupun prakter beragamanya yang perlu dimoderasi dalam kehidupan bersama-sama, sesuai statement Menteri Agama Bapak Yaqut Cholil Qoumas, Agama adalah sebagai inspirasi bukan aspirasi, yang intinya mengembalikan agama kembali pada esensinya, menjaga kemanusiaan dan menjaga kemaslahatan umat.

“Tentunya saya berharap melalui kegiatan ini peserta mampu untuk menjadi pelopor dalam penguatan Moderasi Beragama, sehingga semakin banyak masyarakat yang semakin paham dalam bersikap, berperilaku, dan beragama tanpa mengesampingkan perbedaan yang ada,” jelas KaKanwil.

Kegiatan yang digelar hingga 28 Oktober mendatang ini bertujuan mewujudkan kemajemukan yang ada ditengah masyarakat agar mampu membawa Indonesia lebih maju, seperti yang disampaikan oleh Desmon Andrian selaku ketua panitia.

Orientasi Pelopor Penguatan Moderasi Beragama di Wilayah Provinsi Bali ini diikuti oleh 50 orang peserta dari unsur tokoh agama, penggiat kerukunan, dan pengurus rumah ibadadah yang berasal dari Kabupaten/Kota se Bali.(sn)


Galeri Foto-foto

Berita Sebelumnya
Jambore Pasraman Nasional (Jampasnas) IV
Berita Berikutnya
Tahap Seleksi Kompetensi Calon ASN Kemenag Dimulai 9 November, Cek Jadwalnya!

Rekomendasi:

Berita Terbaru: