(Ura Hindu) Denpasar, 5 Maret 2018
Penyuluh agama merupakan ujung tombak dan perpanjangan tangan dari Kementerian Agama dalam melakukan bimbingan dan pembinaan kepada umat beragama secara berkesinambungan dan terprogram. Penyuluhlah yang lebih banyak bertatap muka dan mengetahui masalah-masalah yang dihadapi oleh umat.
Saat ini seluruh Aparatur Sipil Negara di jajaran Kementerian Agama dituntut untuk bekerja dengan landasan lima budaya kerja Kementerian Agama, yaitu integritas, profesional, inovasi, tanggung jawab dan keteladanan, termasuk penyuluh Agama Hindu. Nilai inovasi ini sudah mulai diterapkan dalam program kerja Penyuluh Agama Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama Propinsi Bali yang secara nyata dapat dilihat dalam Kegiatan Penyuluhan Agama Melalui Seni Keagamaan.
Bidang Urusan Agama Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama Propinsi Bali selama bulan Pebruari hingga Maret tahun 2018 telah melaksanakan Kegiatan Penyuluhan Agama Melalui Seni Keagamaan ini sebanyak tiga kali, yaitu pada tanggal 16 dan 18 Pebruari serta tanggal 4 Maret 2018. Kegiatan pertama pada tanggal 16 Pebruari 2018 dilaksanakan di Pura Gunung Payung yang terletak di Desa Kutuh, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung. Kegiatan kedua pada tanggal 18 Pebruari 2018 dilaksanakan di Pura Luhur Rambut Siwi yang terletak di Desa Yehembang, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana. Sedangkan kegiatan ketiga pada tanggal 4 Maret 2018 dilaksanakan di Pura Dalem Ped, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung.
Dalam Kegiatan Penyuluhan Agama Melalui Seni Keagamaan ini Penyuluh Agama Hindu berkolaborasi dengan beberapa anggota Suka Duka Dharma Bhakti Kantor Wilayah Kementerian Agama Propinsi Bali untuk membentuk sebuah tim yang menampilkan seni keagamaan berupa Pesantian dan Tari. Hal ini dilakukan agar materi ajaran agama yang disampaikan memiliki variasi yang unik dan menghibur karena selama ini materi ajaran agama lebih banyak disampaikan dalam bentuk Dharma Wacana dimana Penyuluh Agama Hindu duduk di hadapan umat Hindu untuk menyampaikan materi ajaran agama tanpa adanya unsur seni keagamaan.
Dampak yang diharapkan dari pelaksanaan penyuluhan agama melalui seni keagamaan ini adalah dapat meningkatkan minat umat Hindu, utamanya generasi muda, untuk lebih memahami dan mendalami ajaran agama Hindu itu sendiri. Selain itu, pelaksanaan penyuluhan agama melalui seni keagamaan secara tidak langsung juga turut melestarikan budaya Bali yang selama ini tentu tidak bisa dipisahkan dari upacara keagamaan Hindu di Bali. Inovasi semacam ini akan terus dikembangkan sehingga penyampaian pesan-pesan keagamaan akan menjadi lebih variatif dan efektif sampai ke umat Hindu yang ada di Propinsi Bali. (ts)