Surabaya (Kemenag) - Usia boleh saja
menjadi angka, tetapi semangat dan keteguhan hati Kasiyo Bin Joyowiono telah
membuktikan bahwa tidak ada batasan dalam mencapai mimpi. Kasiyo pria paruh
baya berusia 70 tahun telah menunjukkan kepada dunia bahwa keterbatasan fisik
bukanlah penghalang untuk meraih mimpi. Meski tuna netra, semangat beliau untuk
menunaikan rukun Islam kelima, yaitu haji, begitu luar biasa. Kisah perjalanan
hidup Kasiyo adalah cerminan tekad dan keikhlasan yang tak tergoyahkan.
Kasiyo memulai perjalanan panjang
menuju Baitullah dengan mendaftar haji pada 15 April 2013. Namun, niat dan
persiapan beliau sudah dimulai jauh sebelumnya, sejak 2011. Selama dua tahun,
beliau menabung dengan tekun dari hasil usahanya sebagai pemijat.
Menjalani
Kehidupan dengan Penuh Dedikasi
Setelah pensiun dari pekerjaannya
sebagai PNS di Dinas Sosial pada 1 Juli 2010, Kasiyo membuka panti pijat. Dari
hasil usaha inilah beliau menabung untuk biaya naik haji. Setiap hari, dari
hasil jasa pijatnya, Kasiyo menyisihkan penghasilan. Prinsip yang beliau pegang
adalah setiap penghasilan dari pasien ke-5 dan seterusnya akan disimpan untuk
biaya haji. “Saya
niatkan setiap penghasilan lebih dari empat pasien per hari untuk tabungan
haji, agar tidak mengabaikan kebutuhan keluarga,” ungkap Kaiyo dengan penuh
kebijaksanaan.
Mengajar dan
Menginspirasi
Kaiyo tak hanya menjadi pemijat,
tapi juga mengajar pijat kepada orang lain. Kegiatannya ini menunjukkan
dedikasi beliau dalam berbagi ilmu dan keterampilan. Dari hasil ketekunan ini,
terkumpul dana hingga mencapai 150 juta rupiah, cukup untuk mewujudkan mimpi
beliau berangkat ke Tanah Suci.
Perjalanan
Panjang yang Penuh Kesabaran
Kasiyo, yang lahir pada 1954 di Solo,
telah menetap di Bali sejak 7 Juni 1984. Di Bali, beliau membangun keluarga dan
menjalani hidup dengan tekun dan penuh kesabaran. “Saya sudah 40 tahun di Bali
dan memiliki tujuh anak serta banyak cucu,” kata Kasiyo dengan penuh
kebanggaan.
Meski menghadapi banyak tantangan,
semangat beliau tetap menyala. "Persiapan selain menabung, saya juga rutin
berolahraga mengikuti panduan, berjalan kaki satu jam setiap hari,"
ungkapnya. Ketekunan ini membuktikan bahwa kesehatan fisik dan mental adalah
kunci utama dalam mencapai tujuan besar dalam hidup.
Harapan dan Doa
Kasiyo berangkat haji sendirian karena keterbatasan dana untuk berangkat bersama pendamping. Namun, beliau tetap yakin dan ikhlas. “Sekarang ini, yang penting adalah haji mabrur dan diterima oleh Allah,” doanya penuh harap.
Perjalanan Kasiyo ke Tanah Suci adalah inspirasi bagi banyak orang. Keteguhan hati, ketekunan, dan keikhlasannya menjadi contoh nyata bahwa semangat dan tekad mampu mengatasi segala keterbatasan. Kisah Kasiyo Bin Joyowiono adalah bukti nyata bahwa dengan niat yang kuat dan usaha yang gigih, mimpi besar dapat terwujud. Semoga beliau meraih haji mabrur dan selalu dalam lindungan-Nya. Amin.(sn)