Bidang PHU Bali : Seluruh punggawa haji Provinsi Bali diminta untuk istiqomah meng-update pengetahuan sekaligus secara massif untuk terus mengedukasi jemaah haji terkait penyelenggaraan ibadah haji sehingga tidak terjadi disinformasi yang dapat merusak citra pemerintah.
Demikian pesan yang disampaikan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali, Komang Sri Marheni, saat membuka kegiatan Manasik Haji Sepanjang Tahun Angkatan Pertama yang diselenggarakan di b-Hotel Bali, Senin (14-08-2023). Hadir sebagai narasumber utama, Anggota Komisi VIII DPR-RI Daerah Pemilihan Provinsi Bali, I Gusti Ngurah Kesuma Kelakan.
Menurut Kakanwil, banyak dinamika yang terjadi selama penyelenggaraan haji tahun 2023 seperti jumlah jemaah lansia dan disabilitas yang cukup tinggi, problem ketika jemaah berada di Arofah-Muzdalifah-Mina, kebijakan pemvisaan sampai efek dari penambahan kuota jemaah haji. Belum lagi kebijakan penambahan air zam-zam bagi jemaah menjadi 10 liter pada tahun ini. ”Kalau para punggawa haji tidak update informasi dan tidak memberikan edukasi yang massif kepada masyarakat, ini bisa menjadi hal yang dapat merusak citra pemerintah dalam penyelenggaraan haji,” tandasnya.
Oleh karenanya, Kakanwil mengajak seluruh punggawa haji, termasuk jemaah haji, untuk menjadikan informasi penyelenggaraan haji 2023 sebagai salah satu rujukan, bekal ibadah sekaligus informasi awal untuk penyelenggaraan ibadah haji tahun 2024 mendatang. Bahkan Kakanwil meminta jemaah untuk tidak menjadikan kisah 5 atau 10 tahun lalu sebagai rujukan haji mendatang karena informasinya sudah tidak up-todate lagi.
Begitu pula dengan jemaah haji yang diprediksi akan diberangkatkan pada 1 – 2 tahun mendatang untuk terus mengupdate informasi penyelenggaraan haji 2023. Jadikan dinamika dan informasi haji yang baru terjadi 2023 untuk bahan pembelajaran sekaligus bekal berhaji agar lebih mantap dalam penyelenggaraan ibadah haji 2024 mendatang. Jangan jadikan kisah perhajian 5 atau 10 atau bahkan 15 tahun yang lalu sebagai informasi haji mendatang karena sudah tidak update lagi.
Sementara itu, IGN Kesuma Kelakan, dalam pemaparan materinya terkait Penguatan Isthita’ah Kesehatan Jemaah Haji menerangkan bahwa salah satu pekerjaan rumah penyelenggaraan haji tahun 2023 adalah istitha’ah kesehatan. Menurutnya, banyak kejadian jemaah yang seharusnya tidak isthita’ah secara kesehatan namun dipaksakan berangkat haji sehingga mengganggu pelaksanaan ibadah di Arab Saudi.
”Ada jemaah yang hemodialis atau cuci darah tetapi masih diberangkatkan. Begitu pula ada jemaah yang sudah stroke atau dimensia berat juga masih diberangkatkan. Akibatnya, disana jemaah tidak mendapatkan layanan cuci darah sehingga berbahaya bagi kesehatan mereka, jelasnya.
Oleh karenanya, Kelakan memberikan apresiasi terhadap gagasan dari Menteri Agama, Yaqut Cholis Qoumas, untuk memberlakukan pemeriksaan kesehatan sebelum pelunasan Bipih dilakukan jemaah. Menurutnya, kebijakan itu untuk memberikan jaminan awal bahwa jemaah yang akan diberangkatkan berstatus isthita’ah sehingga dapat menekan angka kematian jemaah haji di Arab Saudi. (nas)