(Ura Hindu) Denpasar, 3 Mei 2018
Bidang Urusan Agama Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama Propinsi Bali melaksanakan Kegiatan Penyuluhan Agama Daerah Pedesaan untuk kedua kalinya pada hari Rabu, 2 Mei 2018 bertempat di Banjar Kepuh, Desa Mendoyo Dauh Tukad, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Tabanan. Acara dipandu oleh pembawa acara yang merupakan karyawati dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jembrana. Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jembrana digandeng untuk turut serta menyukseskan kegiatan ini. Ucapan selamat datang disampaikan secara berturut oleh Bendesa Adat Desa Mendoyo Dauh Tukad dan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Propinsi Bali (I Nyoman Lastra, S.Pd, M.Ag) kepada seluruh peserta kegiatan yang hadir.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Propinsi Bali dalam sambutannya yang sekaligus membuka Kegiatan Penyuluhan Agama Daerah Pedesaan ini menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Umat Hindu di Desa Mendoyo Dauh Tukad karena sudah begitu bersemangat mengikuti kegiatan ini. Beliau mengawali penyampaian materinya dengan memaparkan sejarah Agama Hindu di Bali. Selanjutnya Beliau menyebutkan bahwa akhir-akhir ini terjadi fenomena dalam masyarakat dimana umat memiliki semangat beragama yang tinggi. Beberapa indikatornya adalah pembangunan pura yang semakin pesat oleh Umat Hindu dengan disokong bantuan dari Pemerintah serta antusiasme yang tinggi dari Umat Hindu untuk tangkil ke pura baik pada saat rahinan ataupun pada hari-hari biasa. Orang dewasa, remaja hingga anak-anak tangkil ke pura untuk melakukan persembahyangan sehingga pura terlihat sangat ramai. Semangat beragama yang tinggi tentu merupakan sebuah modal yang baik. Namun alangkah baiknya apabila bisa diikuti dengan pemahaman terhadap ajaran agama yang baik dan bahkan yang jauh lebih penting yaitu aktualisasi dari pemahaman akan ajaran agama tersebut dalam bentuk perilaku dalam kehidupan sehari-hari yang mencerminkan kita sebagai orang yang paham akan ajaran agama. Jadi tidak berhenti hanya di tataran teori atau wacana saja. Beliau juga menjelaskan, pembinaan agama atau siraman rohani ini dilaksanakan di daerah pedesaan karena akses Umat Hindu di daerah pedesaan terhadap pembinaan agama tentu sangat kurang dan mereka jauh dari tokoh-tokoh agama yang sebenarnya diharapkan bisa memberikan pembinaan agama secara intens.
Narasumber berikutnya menginformasikan terkait aktualisasi ajaran Weda dalam kehidupan Umat Hindu serta pelaksanaan Yadnya dalam kehidupan beragama sehari-hari. Yang terpenting menurut Beliau, pada saat ber-Yadnya yaitu untuk meyakini apa yang kita persembahkan dan melakukan Yadnya dengan rasa tulus ikhlas. Yadnya bisa disesuaikan dengan kemampuan masing-masing karena dalam ber-Yadnya sudah ada tingkatannya, yaitu Nista, Madya dan Utama. Beliau juga menghimbau Umat Hindu agar memahami bahwa tidak ada upacara keagamaan atau Yadnya yang menyebabkan Umat Hindu menjadi miskin. Pahami dan sadari mengenai apa yang menyebabkan dana dalam pelaksanaan upacara keagamaan tersebut menjadi membengkak, yang salah satunya adalah gengsi atau ego untuk menjaga martabat atau harga diri dalam kehidupan bermasyarakat sehingga mengharuskan upacara keagamaan digelar dalam kemegahan atau kemewahan.
Umat Hindu yang hadir dalam kegiatan penyuluhan kali ini merespon apa yang telah disampaikan oleh narasumber dengan memberikan beberapa pertanyaan terkait materi yang telah disampaikan. Mereka berharap apabila di kemudian hari tersedia anggaran untuk kegiatan yang sama maka kegiatan pembinaan agama semacam ini agar dilaksanakan kembali di desa pakraman lain di wilayah Kabupaten Jembrana karena masih banyak Umat Hindu yang harus dibina dan diberi siraman rohani. (ts)