Cari

Pilih tema:
Selamat Datang ZI

Tak Sekadar Anggaran, Kanwil Kemenag Provinsi Bali Dorong Perencana Jadi Aktor Transformasi

Denpasar (Kemenag) – Komitmen Kementerian Agama untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) kembali ditegaskan melalui penyelenggaraan Workshop Perencanaan Anggaran Tahun 2025, yang digelar oleh Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali selama dua hari, Rabu-Kamis (18–19 Juni 2025) yang dipusatkan di Aula Kanwil Kemenag Provinsi Bali. Kegiatan ini diperuntukkan bagi Pejabat Fungsional Perencana (JFT Perencana) dari lingkungan Kanwil, satuan kerja kabupaten/kota, hingga perwakilan Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN) di Bali.

Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Bali, Komang Sri Marheni, yang hadir didampingi oleh Kepala Bagian Tata Usaha, H. Syarif Hidayatullah, Ketua Pokjanas Kemenag RI yang diwakili oleh Muamar Haikal, serta Ketua Panitia, Pande Made Ariawan, bertempat di Aula Kanwil Kemenag Provinsi Bali.

Ketua Panitia Pande Made Ariawan dalam laporannya, menekankan bahwa peran JFT Perencana kini sangat strategis, terlebih menjelang penyusunan Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Agama 2025–2029.

“Perencana harus memastikan bahwa setiap rencana kerja dan anggaran selaras dengan kebutuhan riil masyarakat, prioritas nasional, dan visi-misi Kementerian Agama,” tegasnya.

Ia juga menambahkan bahwa workshop ini menjadi ajang untuk memperkuat sinergi antarunit kerja, meningkatkan kualitas SDM, serta mengarahkan seluruh proses penyusunan anggaran berbasis kinerja, responsif, dan analitis.

Selanjutnya, dalam sambutannya yang inspiratif, Kakanwil Komang Sri Marheni menegaskan bahwa perencanaan bukan sekadar rutinitas, melainkan instrumen perubahan. Ia menantang para perencana agar mampu tampil sebagai agen transformasi, bukan hanya eksekutor administratif.

“Jangan asal copy-paste program! Rencana itu harus lahir dari data yang valid, kebutuhan nyata masyarakat, bukan dari asumsi pribadi,” tegasnya.

Kakanwil juga menggarisbawahi pentingnya kolaborasi lintas wilayah, serta menolak praktik persaingan antar daerah. Menurutnya, setiap perencana harus menjadikan anggaran sebagai alat untuk menciptakan layanan publik yang inklusif dan berkeadilan.

“Tidak ada lagi layanan Kemenag hanya untuk yang sempurna, berduit, atau berpenampilan mewah. Semua masyarakat, termasuk kelompok rentan, berhak atas pelayanan yang bermartabat,” ujarnya penuh semangat.

Kegiatan ini juga mendapatkan apresiasi langsung dari Pokjanas Kemenag RI, yang diwakili oleh Muamar Haikal. Ia menyampaikan kekaguman terhadap capaian Kemenag Provinsi Bali dalam mewujudkan pelayanan publik yang progresif dan inklusif.

“Cerita tentang perjuangan itu bukan lagi sekadar dongeng. Dan ternyata, sosok kesatria yang berjuang itu kini ada di hadapan kita semua,” ungkapnya, merujuk pada dedikasi luar biasa jajaran Kemenag Bali.

Muamar juga memuji fasilitas ramah disabilitas yang dimiliki Kemenag Bali sebagai contoh nyata implementasi pelayanan yang berpihak kepada semua kalangan.

“Saya menyaksikan langsung bagaimana aksesibilitas di sini benar-benar diperhatikan. Ini bukan hanya prestasi institusi, tetapi juga kebanggaan kolektif kita,” jelasnya.

Tak hanya menyentuh aspek teknis, materi workshop juga mencakup dimensi sosial, ekonomi, hingga spasial. Hal ini bertujuan membentuk perencana yang holistik dan mampu berpikir lintas sektor dalam menyusun program-program prioritas.

Sebagai bentuk penghargaan, cenderamata secara simbolis diserahkan kepada Kakanwil Komang Sri Marheni oleh Pokjanas Kemenag RI dan para perencana Provinsi Bali, sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dan arahannya selama ini.

Workshop ini diikuti oleh 45 peserta yang terdiri dari Pejabat Fungsional Perencana, Penyusun Anggaran, perwakilan PTKN di Bali seperti Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa dan STAH Mpu Kuturan Singaraja, serta perencana lintas sektor lainnya.

Melalui kegiatan ini, diharapkan lahir perencanaan anggaran Kementerian Agama yang bukan hanya indah di atas kertas, tetapi berjiwa, berdampak, dan membawa perubahan nyata bagi masyarakat.

“Tantangan pasti ada, tapi justru dari situ lahir inovasi. Mari jadikan workshop ini sebagai ruang intelektual dan spiritual untuk melahirkan rencana yang hidup, bukan sekadar formalitas,” pungkas Komang Sri Marheni. (Wyn)

Berita Sebelumnya
Jambore Pasraman Nasional (Jampasnas) IV
Berita Berikutnya
Pembinaan Zona Integritas KemenPANRB di Karangasem, Kemenag Bali Perkuat Langkah Menuju Birokrasi Bersih dan Melayani

Rekomendasi:

Berita Terbaru: