Cari

Pilih tema:
Selamat Datang ZI

Tradisi Megengan Sambut Ramadan di Kanwil Kemenag Provinsi Bali: Wujud Syukur dan Pererat Silaturahmi

Denpasar (Kemenag) — Menyambut datangnya bulan suci Ramadan, seluruh pegawai di lingkungan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali mengadakan tradisi Megengan pada Selasa (26/2/2025). Bertempat di Musholla Al Firdaus, acara ini dipandu oleh H. Aminullah dan berlangsung dengan penuh khidmat sebagai bentuk rasa syukur sekaligus ajang mempererat silaturahmi antarsesama pegawai.

H. Syarif Hidayatullah selaku Kepala Bagian Tata Usaha Kanwil Kemenag Bali turut menyampaikan tausiyah mengenai makna mendalam di balik tradisi Megengan. Ia menjelaskan bahwa Megengan merupakan tradisi masyarakat Jawa yang dilakukan menjelang Ramadan sebagai bentuk persiapan spiritual dan mental. Tradisi ini, menurutnya, bukan hanya sekadar seremoni, tetapi juga mengandung nilai-nilai luhur seperti permohonan maaf, saling berbagi, dan pelestarian tradisi leluhur.

“Megengan berasal dari bahasa Jawa yang berarti ‘menahan’, melambangkan pentingnya menahan hawa nafsu selama bulan Ramadan. Selain itu, tradisi ini juga mengajarkan kita untuk menyucikan hati sebelum menjalankan ibadah puasa,” jelas H. Syarif Hidayatullah.

Dalam penyampaiannya, H. Syarif juga menguraikan makna simbolik dari tradisi ini. Kue apem, misalnya, disajikan sebagai simbol permohonan maaf, di mana kata apem berasal dari bahasa Arab afwun yang berarti maaf. “Kue apem ini mengingatkan kita pentingnya memaafkan dan memohon maaf sebelum memasuki Ramadan agar hati menjadi bersih,” tuturnya.

Selain itu, pembagian makanan kepada tetangga dan orang sekitar mencerminkan rasa syukur dan semangat berbagi, yang merupakan esensi dari bulan suci Ramadan. Tradisi Megengan juga menjadi media dakwah dan sarana mempererat silaturahmi, di mana masyarakat berkumpul untuk berdoa dan berdiskusi mengenai persiapan ibadah puasa.

Acara ditutup dengan pembacaan doa bersama dan tahlilan untuk mendoakan leluhur. Dalam suasana yang penuh kebersamaan tersebut, para pegawai Kanwil Kemenag Bali diingatkan akan warisan tradisi yang telah berlangsung sejak masa Kerajaan Demak pada sekitar tahun 1500 M.

Bagi masyarakat Jawa, Megengan bukan sekadar tradisi biasa. Di balik ritual dan kebersamaannya, tersimpan ajaran untuk menyambut Ramadan dengan hati yang bersih, penuh syukur, dan siap secara spiritual. Seperti yang disampaikan H. Aminullah, melalui Megengan, diharapkan tali persaudaraan di lingkungan Kanwil Kemenag Provinsi Bali semakin erat dan Ramadan dapat dijalani dengan penuh keikhlasan dan keimanan.

Dengan terlaksananya tradisi Megengan ini, Kanwil Kemenag Provinsi Bali menunjukkan komitmennya dalam melestarikan budaya luhur yang sarat makna keagamaan serta memperkuat nilai-nilai kebersamaan di lingkungan kerja.(sn)


Berita Sebelumnya
Orienetasi Peraturan Perundang-undangan Bagi Penghulu
Berita Berikutnya
Pemerintah Tetapkan 1 Ramadan 1446 H Jatuh pada 1 Maret 2025

Rekomendasi:

Berita Terbaru: