(Inmas Bali) Dua tahun terakhir ini Rapat Kerja Nasional (Rakernas) selalu menghasilkan hal yang baru. Tahun 2019 ini Rakernas dilaksanakan di Hotel Shangrilla Jakarta, dihadhiri oleh 300 pejabat eselon I dan II pada Kementerian Agama baik pusat, perguruan tinggi, badan litbang, dan Kantor Wilayah.
Rakernas tak lagi sekadar ajang pertemuan rutin antar-pimpinan unit pusat dan daerah. Tak lagi pula menggunakan tema-tema klise yang sulit dicerna. Rakernas Kementerian Agama telah memulai babak baru dengan bahasan yang lebih fokus dan arah yang jelas. Formatnya pun dibikin sesuai kebutuhan menginternalisasikan tema agar tepat sasaran.
Perubahan demi perubahan itu bukan ide yang datang tiba-tiba. Ia diproses melalui evaluasi atas capaian tahun sebelumnya, respons terhadap situasi terkini, hingga antisipasi tren ke depan. Semua proses itu jika dihubungkan, maka bermuara pada satu kata: moderasi. Sejauh ini Kementerian Agama sesungguhnya telah coba menjadikan kata “moderasi” sebagai cara bekerja. Kata moderasi mengandung dua makna yaitu, memandu/mengatur/menengahi serta pengurangan kekerasan dan penghindaran keekstreman.
Rakernas adalah sebuah moderasi. Cara kita untuk mengendalikan program agar tetap berada dalam kerangka kerja yang tepat, menempatkan masalah dan solusi sesuai porsinya, hingga membumikan visi-misi dalam kegiatan yang konkret. Menyeimbangkan antara semangat berinovasi dan kewajiban menjalankan mandatory, menyesuaikanpenggunaan teknologi informasi dan kemampuan mengendalikan diri, menjadi poros di antara kutub yang saling tarik menarik, dan mengharmoniskan berbagai perbedaan. Melalui serangkaian program yang terukur bagi umat beragama, kita berupaya menghadirkan jalan tengah bagi konservatisme versus liberalisme. Secara kinerja kita berusaha menjadikan Kementerian Agama
sebagai instansi yang tepercaya dalam menyerap aspirasi umat sekaligus unggul dalam melayani publik.
Kata “moderasi” adalah jembatan yang menyambungkan Rakernas satu dengan lainnya sebagai agenda besar yang berkesinambungan. Tindak lanjut dari setiap Rakernas yang tecermin dalam capaian kinerja tahunan adalah rekam jejak yang menandai kemampuan kita dalam menjalankan amanah. Catatan kinerja yang tinggi menjadi penyemangat berprestasi, sementara kinerja yang renda hmenjadi bahan instrospeksi. Semoga kita mampu menyadari kapan saatnya bereaksi dan di mana harus berposisi.
“Instruksi “diteruskan” bukan berarti sekadar disalin atau dicetak ulang apa adanya (copy-paste) sementara “disebarluaskan” bukan pula berarti sekadar meneruskan dan membaginya (forward and share) begitu saja tanpa penyaringan dan penyesuaian. Disebarluaskan maksudnya adalah membumikan substansi catatan ini dalam sanubari publik melalui kegiatan yang produktif dan komunikasi yang efektif.” Ujar Menag saat membuka Rakernas ini.
Rakernas kali ini juga berbeda karena tidak membuka forum diskusi tetapi lebih bagaimana peserta mampu men delivery pesan pesan pada Rakernas yang disampaikan oleh narasumber seperti Menteri Keuangan RI yang menyampaikan materi terkait Akselerasi Manajemen Keuangan Kementerian Agama, Rheinald Kasali dengan materi Bekerja Melayani Umat di Era Disrupsi, dan mewakili generasi milenial dihadirkan narasumber Inayah Wahid yang akan menyampaikan “Issu Moderasi Beragama Perspektif Generasi Millenial”.
Rakernas ini juga memberikan Kemenag Award yang dalam kesempatan ini Kanwil Kementerian Agama Provinsi Bali meraih penghargaan Satuan Kerja Berpredikat WBK pada tahun 2018 yang diraih oleh Kantor Kementerian Agama Kab. Kota Denpasar dan Kabupaten Karangasem. Bapak I Nyoman Lastra sendiri yang menerima penghargaan yang diberikan oleh Menteri Agama. Semoga penghargaan ini dapat menular pada Kantor Kementerian Agama kabupaten lainnya dan juga Kanwil tentunya.(sn)