Cari

Pilih tema:
Selamat Datang ZI

Lembaga Pendidikan Tinggi Sebagai Benteng Pancasila Dan NKRI

Menteri Agama Republik Indonesia Lukman Hakim Saifuddin, Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, Tokoh Agama Prof. H. Ahmad Buya Syafii Maarif, dan Kepala Unit Kerja Pemantapan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) Yudi Latif hadir sebagai pembicara Seminar Kebangsaan dengan tema Lembaga Pendidikan Tinggi Sebagai Benteng Pancasila Dan NKRI yang diadakan di BTDC Nusa Dua Bali. Seminar yang berlangsung selama dua hari, dimulai pada hari Senin, 25 s.d 26 September 2107 dihadiri oleh 4.000 perguruan tinggi se-Indonesia bertujuan mencari solusi dan merumuskan langkah yang harus ditempuh dalam melawan sekaligus menghadapi sel-sel gerakan radikalisme yang berkembang dan mengancam keutuhan NKRI.

          Menteri Agama Republik Indonesia Lukman Hakim Saifuddin berpandangan bahwa  masyarakat Indonesia di tengah kemajemukan tidak hanya sebagai umat beragama, tetapi seakan telah menjadi umat digital. Generasi muda tidak mempunyai cukup waktu untuk mencerna hal yang fundamental termasuk ideologi negara melalui sosialisasi, oleh karena itu perlu ada metodologi tersendiri untuk memberikan pemahaman kepada mereka mengapa pentingnya Pancasila dan Bhineka Tunggal IKa. Terkait dengan paham radikalisme, kelompok moderat di Indonesia harus lebih banyak bersuara guna menghadapi kelompok-kelompok radikal. Wawasan keagamaan menjadi penting dalam membalikkan pemahaman radikalisme ekstrem. Kalangan moderat dan perguruan tinggi harus lebih bersuara dalam menjelaskan moderasi Agama. Orang moderat bisa memaklumi keadaan dan tantangan zaman sedangkan paham radikalisme melakukan tindakan ekstrem secara berlebihan, masalahnya tentu komplek. Mereka berorentasi pada masa lalu dan tidak punya harapan terhadap masa depannya.

          Sedangkan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, dalam implementasi menghalau radikalisme di Indonesia dibutuhkan integrasi antara pemerintah dan perguruan tinggi melihat masalah radikalisme yang begitu komplek di Indonesia. Dalam kesempatan tersebut, Kapolri juga menyesalkan masuknya paham radikalisme di sejumlah kampus di Indonesia. Kampus merupakan driving force bagi perubahan di Indonesia. Intinya perlu sinergi, intregrasi antara pemerintah dan perguruan tinggi.

Sementara Tokoh Agama Buya Syafii Maarif, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah  menyatakan radikalisme adalah peradaban Arab yang tidak relevan, namun justru subur di Indonesia. Perguruan tinggi wajib bertindak, jangan berwacana untuk melawan gerakan radikal sebab masa depan bangsa sangat ditentukan dengan tindakan kita melawan terorisme, kemudian Kepala Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila Yudi Latif menegaskan untuk memerangi radikalisme dapat dilakukan dengan mengembangkan keteladanan serta menumbuhkembangkan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika demi keutuhan NKRI.(CA)

Galeri Foto-foto

Berita Sebelumnya
Jambore Pasraman Nasional (Jampasnas) IV
Berita Berikutnya
Kaji Terap Program Pelayanan Terpadu Satu Pintu

Rekomendasi:

Berita Terbaru: