Denpasar (Kemenag) - Bali turut serta dalam upaya monumental Penulisan Mushaf Nusantara, sebuah kegiatan yang dilakukan serentak di 29 provinsi dengan melibatkan 365 kaligrafer. Program yang digagas oleh Direktorat Penerangan Agama Islam Kementerian Agama RI bekerja sama dengan LPTQ Nasional dan Lembaga Kaligrafi Alquran ini diharapkan mampu mencetak rekor MURI sebagai penulisan mushaf tercepat di dunia, yang biasanya memakan waktu satu tahun, kini ditargetkan selesai dalam 10 jam serentak pada Rabu (19/03/2025).
Provinsi Bali sendiri untuk penulisan mushaf ini diwakili oleh Mohammad Ubaitulah Qomar, yang mendapatkan tugas menuliskan Juz 22 pada halaman 422 hingga 423. Ubaitul yang berasal dari Kabupaten Tabanan pernah berkancah dalam MTQ Tingkat Nasional sebanyak 4 kali mewakili Provinsi Bali.
Tak hanya sekadar menulis ayat suci, Mushaf Nusantara juga menghadirkan ornamen khas setiap daerah. Untuk Bali, saput poleng—motif kain kotak hitam putih yang melambangkan keseimbangan dalam budaya Hindu Bali—dimasukkan sebagai bagian dari iluminasi mushaf.
Kepala Bagian Tata Usaha Kanwil Kementerian Agama Provinsi Bali, Syarif Hidayatullah, yang mewakili Kepala Kanwil, menyampaikan bahwa keterlibatan Bali dalam proyek ini adalah suatu kebanggaan tersendiri. Ia menegaskan bahwa karya ini merupakan sebuah pencapaian monumental bagi bangsa Indonesia dan menjadi ladang amal ibadah bagi para kaligrafer yang terlibat. Lebih dari itu, ia juga berharap agar penulisan mushaf ini dapat menjadi titik awal berkembangnya para kaligrafer handal di Bali.
“Bali memang kecil secara kuantitas, tetapi dari segi kualitas, selalu memberikan kontribusi yang berarti di setiap kegiatan nasional. Partisipasi dalam penulisan Mushaf Nusantara ini diharapkan dapat membawa dampak positif bagi kerukunan umat beragama di Bali,” ungkapnya.
Ia juga menambahkan bahwa ini adalah pertama kalinya dalam sejarah, sebuah mushaf ditulis dalam waktu yang begitu singkat dengan melibatkan begitu banyak provinsi. Oleh karena itu, ini bukan hanya sebuah peristiwa biasa, melainkan menjadi bagian dari sejarah penting yang patut dikenang. Menurutnya, inisiatif ini juga dapat menjadi energi baru bagi para kaligrafer di Bali dan menjadi pemicu semangat bagi generasi muda untuk mengembangkan seni kaligrafi Islam di daerah tersebut.
Mushaf Nusantara sendiri merupakan mushaf Alquran bercorak keindonesiaan yang menggabungkan seni kaligrafi Arab gaya Naskhi dengan unsur budaya lokal dari seluruh Indonesia. Setiap halaman dihiasi dengan pola iluminasi khas daerah, yang mencerminkan keberagaman dan semangat persatuan bangsa dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika. Dengan ukuran 100x70 cm dan total 624 halaman, Mushaf Nusantara hadir sebagai karya seni yang tidak hanya memiliki nilai spiritual, tetapi juga estetika yang tinggi.
Penulisan Mushaf Nusantara menjadi bukti nyata bagaimana seni kaligrafi dapat menjadi sarana perekat persatuan, sekaligus menjadi warisan berharga bagi bangsa. Dengan semangat kebersamaan dan kekayaan budaya yang dihadirkan dalam mushaf ini, diharapkan akan lahir lebih banyak lagi seniman kaligrafi berbakat dari berbagai daerah, termasuk Bali.(sn)