Denpasar (Kemenag) - Penyuluh Agama Islam di Bali kini didorong untuk lebih adaptif dalam menyampaikan dakwah melalui media sosial yang inklusif dan transformatif. Hal ini terwujud dalam kegiatan Coaching Klinik Pembuatan Konten Digital yang Inklusif dan Transformatif, yang diselenggarakan oleh Bidang Bimbingan Masyarakat Islam melalui Seksi Penerangan Agama Islam Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali, Rabu (28/5/2025), di Quest Hotel San Denpasar.
Kegiatan ini menghadirkan 30 peserta pilihan dari seluruh kabupaten/kota se-Bali. Mereka merupakan Penyuluh Agama Islam yang telah menunjukkan komitmen dalam menyampaikan nilai-nilai Islam secara damai, moderat, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.
Kepala Bidang Bimbingan Masyarakat Islam Kanwil Kementerian Agama Provinsi Bali, H. Abu Siri, dalam sambutannya menyampaikan bahwa peran Penyuluh tidak hanya penting namun juga strategis di tengah arus digitalisasi yang semakin kuat. "Penyuluh adalah orang-orang pilihan yang luar biasa. Mereka bukan hanya penyampai pesan keagamaan, tetapi juga agen perubahan di masyarakat," ujarnya.
Lebih lanjut, Abu Siri menekankan pentingnya etika dalam komunikasi digital. Ia mengingatkan bahwa setiap konten yang diunggah oleh Penyuluh harus tetap dalam koridor hukum dan nilai-nilai Islam. “Kita harus menjunjung tinggi etika komunikasi digital, apalagi saat ini kita hidup di tengah regulasi ketat seperti UU ITE,” imbuhnya.
Penyelenggaraan coaching ini memiliki tujuan utama untuk membina dan mengembangkan kompetensi Penyuluh Agama Islam yang profesional, berintegritas, sekaligus kreatif dan inovatif. Media sosial dianggap sebagai wadah potensial untuk berdakwah secara efektif dan menjangkau lebih luas, terutama generasi muda. Namun di sisi lain, tantangan seperti hoaks, ujaran kebencian, radikalisme, dan provokasi di ruang digital juga tidak bisa diabaikan.
Dalam konteks inilah, pelatihan ini diarahkan untuk membekali Penyuluh agar mampu menciptakan konten dakwah yang tidak hanya informatif dan akurat, tetapi juga inspiratif serta menjaga harmoni di tengah keberagaman.
Selain itu, disebutkan pula bahwa di Provinsi Bali saat ini terdapat 4 orang Moderat Milenial Agent (MMA) yang menjadi bagian dari strategi penguatan narasi keislaman yang moderat di dunia maya.
Kegiatan ini menjadi langkah konkret Kementerian Agama dalam merespons perkembangan zaman dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman yang rahmatan lil ‘alamin. Diharapkan, para Penyuluh dapat menjadi pelopor dakwah digital yang santun, inklusif, dan berdampak positif bagi masyarakat luas.(sn)