Denpasar (Kemenag) - Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama RI melalui Direktorat Penerangan Agama Islam, Subdirektorat Dakwah dan Hari Besar Islam, menggelar kegiatan Bimbingan Teknis Dakwah Khusus: Penguatan Wawasan Keagamaan dan Kebangsaan bagi Penceramah Agama Islam se-Provinsi Bali Tahun 2025, pada Selasa, (29/04/2025), bertempat di Aula Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali.
Kegiatan ini diikuti oleh para penyuluh agama Islam, penceramah, dan unsur ormas Islam di Bali, serta menghadirkan narasumber dari Direktorat Jenderal Bimas Islam, Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan Badan Intelijen Negara (BIN). Bimtek ini diselenggarakan sebagai bagian dari ikhtiar membekali para dai dan mubaligh dengan pemahaman keagamaan yang moderat, wawasan kebangsaan yang kuat, serta kemampuan berdakwah yang adaptif di era digital.
Kepala Subdirektorat Dakwah dan Hari Besar Islam, H. Amirullah, S.Ag., M.Ag., dalam laporannya menekankan bahwa tantangan dakwah hari ini kian kompleks, khususnya di tengah derasnya arus digitalisasi dan penyebaran ideologi yang beragam. Ia menyinggung pentingnya penceramah membangun narasi keagamaan yang damai dan menjauhkan umat dari sikap saling mencaci ataupun menghakimi.
"Tak satu pun agama yang mengajarkan untuk menyakiti orang lain. Beragama itu warisan, tetapi menjaganya adalah pilihan sadar. Mari hadirkan dakwah yang rahmatan lil alamin, yang membawa kedamaian dan merangkul semua," ujarnya.
Amirullah juga menyoroti pentingnya penceramah untuk terus memperbarui pemahaman terhadap isu-isu aktual keagamaan dan sosial. Menurutnya, agama tidak hanya berkutat pada ritual, tetapi harus berdampak pada praktik kehidupan sosial. Para dai didorong untuk memanfaatkan teknologi sebagai media dakwah yang efektif dan inklusif.
Sementara itu, Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Bali, Komang Sri Marheni, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Bimtek ini bukan sekadar ajang peningkatan kapasitas, tetapi juga ruang refleksi bagi para dai untuk memperkaya perspektif dakwah yang sesuai dengan konteks keberagaman Indonesia, khususnya Bali.
"Dakwah bukan hanya menyampaikan pesan agama, tetapi membangun jembatan kasih di antara sesama. Di Bali yang kaya akan nilai Menyama Braya dan Tat Twam Asi, penceramah harus menjadi agen yang menjaga harmoni, bukan yang memecah belah," tuturnya.
Ia menambahkan bahwa moderasi beragama adalah jalan tengah yang penuh hikmah. Seorang dai, menurutnya, harus bisa menjadi penuntun yang bijak, yang menyapa semua kalangan dengan kasih, bukan menghakimi. Ia mengajak seluruh peserta untuk memperkuat komitmen menjadi pendakwah yang inspiratif, berwawasan kebangsaan, dan membawa pesan damai di tengah masyarakat multikultural.
Melalui Bimtek ini, para peserta diharapkan tidak hanya memahami substansi dakwah yang toleran, tetapi juga mampu mengemas pesan keagamaan secara komunikatif dan sesuai dengan perkembangan zaman. Dakwah tidak lagi cukup dengan mimbar fisik, tetapi harus hadir di ruang-ruang digital dengan pesan yang mencerahkan.
Dengan semangat moderasi, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa peran dai sangat strategis dalam menjaga kerukunan umat dan memperkuat identitas keagamaan yang inklusif di tengah keberagaman bangsa.(sn)