Denpasar (Kemenag) - Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali menggelar kegiatan Sinergitas Capaian Kinerja (SICAKIN) pada Senin (16/06/2025), bertempat di Aula Kanwil Kemenag Provinsi Bali. Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Bagian Tata Usaha, para Kepala Bidang dan Pembimas, Kepala Kemenag Kabupaten/Kota se-Bali, Kepala Subbagian Tata Usaha, para Kepala MAN dan MTsN, perwakilan KKMI, KKMTS, APRI, serta Pokjaluh dan Pokjawas lintas agama se-Bali.
Lebih dari sekadar agenda rutin, SICAKIN kali ini disulap menjadi forum reflektif, evaluatif, sekaligus strategis untuk memastikan arah kebijakan dan pelayanan publik Kementerian Agama semakin membumi, berdampak, dan bernurani.
Kepala Bagian Tata Usaha Kanwil Kemenag Provinsi Bali, Syarif Hidayatullah, dalam laporannya menyampaikan bahwa SICAKIN merupakan forum internal yang dirancang untuk memperkuat sinergi antar satuan kerja dalam memenuhi capaian kinerja, sekaligus ruang evaluasi strategis terhadap pelaksanaan tugas dan fungsi pemerintahan di bidang agama.
“SICAKIN ini adalah ruang kita untuk mengevaluasi realisasi kinerja dan memperkuat komitmen kita terhadap pembangunan Zona Integritas dan arah kebijakan nasional,” tegasnya. Ia juga mengungkapkan bahwa kegiatan ini lahir dari inovasi Kepala Kanwil Kemenag Bali, Komang Sri Marheni, yang menjadikannya forum internal untuk menjawab tantangan reformasi birokrasi dan pembangunan agama ke depan.
Syarif juga memaparkan bahwa anggaran tahun 2025 sebesar Rp573 miliar lebih telah terbagi dalam dua fungsi utama, yakni fungsi agama sebesar Rp135,8 miliar (23,68%) dan fungsi pendidikan sebesar Rp437,9 miliar (76,32%). Namun ia juga mengingatkan bahwa tantangan tetap ada, salah satunya adalah pemblokiran anggaran yang berdampak pada kualitas pelaksanaan program. “Kami sadari ada kendala seperti defisit belanja yang berdampak langsung pada kelancaran program,” ujarnya.
Di sisi lain, Komang Sri Marheni, Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Bali, dalam sambutannya yang penuh makna menekankan bahwa SICAKIN adalah lebih dari sekadar forum kinerja. “Ini adalah ruang refleksi, penyelarasan arah, peneguhan tekad, dan penguatan komitmen untuk menjadikan Kementerian Agama semakin berdampak dan bermartabat,” ungkapnya.
Ia juga menyentuh secara mendalam makna reformasi birokrasi. “Reformasi bukan sekadar perubahan sistem, tapi pergeseran budaya, dari sekadar dilayani menjadi pemberi makna,” katanya dengan tegas. Komang juga menyampaikan pentingnya makna replikasi, khususnya dalam pembangunan Zona Integritas. “Replikasi bukan soal siapa yang tampil, tapi soal menularnya semangat kebaikan dan perubahan. Replikasi adalah spora perubahan—dari yang berhasil menuju yang berbenah.”
Dalam kesempatan tersebut, Komang juga memberikan pesan haru menjelang masa purna tugasnya. Ia menegaskan bahwa sambutan ini merupakan pidato resmi terakhir dalam forum strategis seperti SICAKIN. “Saya titip perjuangan ini. Jangan hanya pertahankan capaian, tapi tingkatkan. Jangan hanya jaga citra Kemenag Bali, tapi pancarkan kemuliaan pelayanannya,” pesannya, disambut haru para peserta. Ia juga menambahkan, “Biarlah kita dikenang bukan karena jabatan, tapi karena ketulusan dan perubahan yang pernah kita bawa bersama.”
SICAKIN juga dirangkaikan dengan pemaparan dari perwakilan Kepala Kantor Kemenag Kabupaten/Kota yang akan maju dalam penilaian Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK), serta forum diskusi terbuka untuk menyerap aspirasi dan memperkuat sinergi antarsatker.
SICAKIN bukan hanya evaluasi kinerja, tapi cahaya perubahan. Dari angka menjadi makna, dari target menjadi budaya, dari sistem menjadi pelayanan yang menyentuh nurani masyarakat. Inilah wajah baru Kementerian Agama Bali, lebih manusiawi, lebih berdaya, dan semakin bermartabat.(sn)